Halloween party ideas 2015

Go Ihsan - 2. Penyimpangan Jiwa dari Mental-Perilaku yang Lurus
Ada beberapa kelompok masyarakat tersesat bukan karena ketidaktahuan mereka tentang kebenaran atau bukan karena mereka memiliki pola pikir yang menyimpang, tapi kesesatan mereka disebabkan karena mereka lari dari kebenaran yang sudah mereka ketahui demi memenuhi keinginan hawa nafsu. 

Ketika seseorang sudah lari dari kebenaran, maka ia akan berusaha menganut paham kebatilan untuk menggantikan kebenaran yang ia hindari dan terus menerus berupaya keras membuat dirinya dan orang lain menerima kebatilan itu hingga akhirnya dianggap sebagai kebaikan. Ia melakukan hal ini, karena bagaimanapun pemikiran dan aqidah yang lurus itu akan menghalangi dirinya untuk mengikuti hawa nafsu, maka ia berusaha menggantinya dengan pemikiran dan aqidah yang sesat agar tidak terjadi kontradiksi atau perang batin antara hawa nafsu dengan prinsip hidupnya. Maka hawa nafsu yang dibantu oleh syaithan menghiasi perbuatan buruk agar terlihat baik, dengan mencari-cari alasan pembenaran meskipun amat jauh sampai keburukan itu betul-betul diterima sepenuhnya oleh jiwa dan tanpa memikirkan argumentasi lagi. Manusia yang sampai pada kondisi jiwa seperti ini benar-benar terjatuh kepada mentalitas dan perilaku terendah – semoga Allah melindungi kita darinya.

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Al-A’raf (7): 175-176).

Jika saja orang seperti itu menggunakan akal sehatnya dan berusaha untuk berperilaku lurus, maka ia akan menghilangkan perang batin di dalam dirinya justru dengan menguatkan aqidah kebenaran dan memenuhi keinginan-keinginannya dengan cara yang halal serta mengarahkan keinginan melakukan yang haram dengan merasakan kenikmatan melaksanakan kewajiban dan ketinggian akhlaq. Penelitian dan pengalaman menunjukkan bahwa kelezatan melaksanakan kewajiban dan komitmen dengan perbuatan mulia jauh melebihi kenikmatan hawa nafsu rendah dan lebih menenangkan jiwa.


Penyimpangan mental perilaku ini dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:

2.a. Hasad (Dengki)
Adalah salah satu penyakit jiwa yang amat buruk yang mendorong orang untuk melecehkan kebenaran dan mengingkarinya meskipun kebenaran itu didukung oleh argumentasi dan bukti yang amat jelas.

Hasad ditambah ittiba’ul hawa (mengikuti hawa nafsu) menjadi faktor utama pengingkaran dan pembangkangan serta makar Yahudi terhadap kebenaran yang dibawa oleh Nabi Isa as. Oleh karenanya mereka berusaha untuk membunuh Nabi Isa as – namun Allah swt menyelamatkan beliau – sebagaimana telah mereka lakukan terhadap nabi-nabi Bani Israil lainnya alaihimussalam.

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus (Jibril). Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginan (hawa nafsu) mu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al-Baqarah (2): 87).

Hasad juga yang menjadi penyebab utama permusuhan Yahudi terhadap Rasulullah saw sehingga mereka melakukan berbagai makar terhadap beliau dan dakwahnya, kemudian makar itu terus berlanjut sepanjang sejarah Islam dari khilafah Abu Bakar sampai hari ini.

Ahbar (para tokoh agama) Yahudi hasad kepada Nabi Isa karena mereka khawatir Nabi Isa merebut kepemimpinan agama yang sedang mereka pegang atas Bani Israil yang dengan kepemimpinan itu mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Sedangkan hasad semua Yahudi – kecuali yang masuk Islam – kepada bangsa Arab di masa Rasulullah saw adalah karena mereka telah menanti seorang nabi untuk memerangi bangsa Arab yang menyembah berhala, namun justru bangsa Arab malah beriman kepada Nabi Muhammad saw, maka mereka mengingkari Nabi yang telah mereka ketahui kedatangannya sebelumnya.

Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka , padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (Al-Baqarah (2): 89).

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya . Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah (2): 109).


2.b. Kecenderungan Jiwa yang Menuntut Pemenuhan dengan Cara Menyimpang
Akibat pendidikan yang rusak atau jauh dari manhaj Islam, sangat mungkin tumbuh dalam diri manusia kecendrungan yang tidak wajar seperti tumbuhnya virus jahat dalam tubuh, lalu ia menyebar dan menguasai jiwanya. Bila demikian maka orang ini akan kehilangan keseimbangan kemanusiaannya yang normal dan akalnya seperti tidak mau lagi mengakui kebenaran. Kecerdasannya lalu diarahkan untuk melakukan kelicikan dan keculasan demi memenuhi keinginan jiwa yang telah menyimpang itu.


Orang seperti ini akan menyembelih akhlaq mulia dengan dalih kebaikan, melakukan kejahatan dengan syiar kemanusiaan, dan menghancurkan bangunan al-haq dengan alasan memberantas kebatilan. Bila ada ayat Al-Quran atau hadits Rasulullah saw menghadang di depannya, ia akan mengingkarinya atau menafsirkannya sesuai hawa nafsunya.

Golongan atau kelompok masyarakat yang mengidap penyakit ini diantaranya adalah para penganut paham ibahiyyah (permissif/serba boleh), juga mereka yang mengingkari Allah atau hari akhir, atau orang-orang yang mengaku nabi, atau bahkan menyatakan dirinya tuhan seperti terjadi dalam beberapa episode sejarah.

2.c. Al-Kibr (Sombong)
Kesombongan yang menguasai jiwa seseorang menyebabkan ia berani menolak kebenaran dan melecehkan para pendukung kebenaran. Lalu ia mencari paham kebatilan dan berusaha menghiasinya dengan argumentasi palsu yang tidak berdasar sama sekali.
الكِبْرُ بَطَرُ الحقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم
Kesombongan itu sikap menolak kebenaran dan melecehkan orang lain. (HR. Muslim).

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya, dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. (Al-A’raf (7): 146).

Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Al-Mu’min (40): 56).

2.d. Dendam Kesumat
Daulah Islam pernah selama berabad-abad mencapai kekuatannya yang amat besar dengan kebenaran dan keadilan yang dibawanya dalam jihad. Seiring dengan itu ada negara dengan aqidah sesatnya yang tersingkir seperti Imperium Persia yang kemudian sebagian rakyatnya masuk Islam dengan keikhlasan. Namun ada pula unsur-unsur diantara mereka yang menyimpan dendam kesumat terhadap Islam dan kaum muslimin karena mereka masih kuat rasa ashabiyahnya terhadap negara dan aqidah mereka namun tidak berani melawan secara terang-terangan.

Dendam kesumat ini melahirkan berbagai makar dan persekongkolan jahat terhadap Islam dan kaum muslimin sejak dulu hingga kini. Ada yang melakukan perang pemikiran dengan cara-cara licik untuk menyesatkan kaum muslimin dari aqidah yang benar sehingga ummat Islam berpecah belah karena aqidahnya terkena polusi. Ada pula yang melakukan perang secara fisik dengan pengerahan kekuatan demi menghancurkan kekuatan Islam. Mereka yang menyimpan dendam ini amat khawatir terhadap kemurnian aqidah ummat Islam yang akan menimbulkan kembalinya persatuan mereka kembali.

2.e. Motivasi Politis
Beberapa faktor penyimpangan jiwa boleh jadi terkumpul manjadi satu dan membentuk motivasi politis berupa keinginan kuat untuk menjadi penguasa. Motivasi politis ini mendorong pemiliknya untuk mencapai kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Seringkali mereka menganggap aqidah yang benar dalam hati manusia yang beriman sebagai penghalang terbesar hawa nafsu mereka. Oleh karenanya, mereka lantas menyebarkan aqidah sesat seperti atheisme atau permissivisme ke tengah-tengah masyarakat agar memberi dukungan. Kadang kala mereka menggunakan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan untuk membungkus motivasi mereka dengan kedok ilmiah dan menipu para pelajar dan mahasiswa.

Ketika mereka sudah berkuasa biasanya kekuasaan itu mereka gunakan untuk menyesatkan aqidah masyarakat seperti yang dilakukan oleh Namrudz di masa Ibrahim as, atau Fir’aun di masa Musa as.
Sangat mungkin pula mereka yang ingin meraih kekuasaan kemudian menciptakan agama atau ideologi baru dengan kemasan yang menarik orang-orang yang juga memiliki kelainan jiwa atau kemasan yang terlihat baik dari luar untuk menipu orang-orang awam dan lugu. Hal ini mereka lakukan karena motivasi keagamaan sering kali ampuh untuk memompa semangat para pengikut dalam berjuang dan berkorban melawan lawan politiknya yang sedang berkuasa. Diantara mereka adalah orang-orang yang menciptakan aqidah Syiah karena dendam dan motivasi politik sehingga menjadikan isu “Mencintai Ali ra & keluarga Rasulullah saw” sebagai modal untuk menyesatkan aqidah ummat Islam.

3. Kelemahan Iradah
Dalam episode perjalanan sejarah, cukup banyak manusia yang lemah iradah-nya (tidak memiliki keinginan dan keberanian untuk melawan) di hadapan kehendak para penguasa politik yang sesat, atau kekuatan sosial yang mendominasi mereka, atau di hadapan tokoh menyimpang yang berpengaruh.

Ketika iradah melemah akan terhentilah potensi berpikir kritis seseorang dan membuatnya membeo kepada pihak yang kuat. Sebaliknya para penguasa akan memanfaatkan mentalitas budak pengikutnya untuk kepentingan tertentu yang menyesatkan.

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (Az-Zukhruf (43): 54).

Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak). Sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir, mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Saba (34): 33).
___
Diringkas dari:
Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah Wa Ususuha, ‘Abdurrahman Hasan Habannakah Al-Maidani, Darul Qalam – Dasmaskus, hlm 587-600.


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.