Halloween party ideas 2015

Berkata Ibnu Rajab rohimahulloh: “Hadis ini adalah salah satu prinsip agung (ushul) dari prinsip-prinsip Islam dan merupakan parameter amal perbuatan yang lahir (terlihat), sebagaimana hadis ‘Innamal a’maalu binniyyaat” (Hadis tentang niat), adalah merupakan parameter amal perbuatan yang batin (tidak terlihat).

Sebagaimana seluruh amal perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk mencari keridhaan Alloh subhanahu wa ta’ala maka pelakunya tidak mendapatkan pahala, maka demikian pula halnya segala amal perbuatan yang tidak atas dasar perintah Alloh subhanahu wa ta’ala dan RasulNya shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam juga tertolak dari pelakunya.

Siapa saja yang menciptakan hal-hal baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dan RasulNya shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam, maka bukanlah termasuk perkara agama sedikitpun.

Beliau berkata pula: “Makna hadis (diatas adalah): bahwa barangsiapa amal perbuatannya keluar dari syari’at dan tidak terikat dengannya, maka tertolak.”

Berkata Ibnu Daqiq Al-‘Ied rohimahulloh: "Hadis ini adalah salah satu kaidah agung dari kaidah-kaidah agama dan ia merupakan jawami’ul kalim (kata-kata yang singkat namun padat) yang diberikan kepada Al-Musthafa shollallohu ‘alaihi wa ’ala alihi wasallam, karena sesungguhnya ia (hadis ini) dengan jelas merupakan penolakan semua bid’ah dan segala yang dibuat-buat (dalam perkara agama)."

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya: "Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, pasti Alloh mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ?Imran: 31).

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7).

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzaab: 36)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa ’ala alihi wasallam bersabda, yang artinya: "Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama, karena semua perkara baru (bid’ah) dalan agama adalah tersesat." (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dll).

Berkata ‘Abdullah bin ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya perkara-perkara yang paling dibenci oleh Allah adalah bid’ah-bid’ah.” (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra 4/316)

Berkata Al-Imam Malik bin Anas: "Barangsiapa mengada-adakan di dalam Islam suatu kebid’ahan yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” Maka apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, maka tidak menjadi agama pula pada hari ini." (Al-I’tisham, Al-Imam Asy-Syathibiy 1/64)

Berkata Imam Asy-Syaukaniy rohimahulloh: “Maka, sungguh apabila Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mematikan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana dengan pendapat orang yang mengada-adakan setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama-Nya?!”

“Seandainya sesuatu (amalan) yang mereka ada-adakan termasuk dalam urusan agama menurut keyakinan mereka, berarti (mereka mengnaggap bahwa) belum sempurna agama ini kecuali dengan pendapat mereka, ini berarti mereka telah menolak Al-Qur`an. Dan jika apa yang mereka ada-adakan bukan termasuk dari urusan agama, maka apa faedahnya menyibukkan diri dengan sesuatu yang bukan dari urusan agama??”

“Ini adalah hujjah yang terang dan dalil yang agung, tidak mungkin orang yang mengandalkan akalnya dapat mempertahankan hujjahnya selama-lamanya. Maka jadilah ayat yang mulia ini (Al-Maa`idah:3) sebagai hujjah yang pertama kali memukul wajah ahlur ra`yi (orang yang mengandalkan dan mendahulukan akalnya daripada wahyu) dan menusuk hidung-hidung mereka dan mematahkan hujjah mereka.” (Al-Qaulul Mufiid fii Adillatil Ijtihaad wat Taqliid hal.38)

PENUTUP

Semua amalan dapat dikatakan sebagai ibadah yang diterima bila memenuhi dua syarat, yaitu ikhlashh dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk dan tuntunan Nabi shollAllahu ‘alaihi wassalam). Dua syarat inilah yang menjadikan amalan kita menjadi amalan yang sholih. Cacat dalam salah satunya, maka tertolaklah amalan kita. Alangkah ruginya jika kita melaksanakan amalan-amalan tersebut, namun tidak ada nilainya disisi Alloh subhanahu wa ta’ala.

Maka sudah seharusnya kita menjadikan ibadah yang kita lakukan semata-mata hanya untukAllah dan kita beribadah hanya dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad shollAllahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap tarikan nafas dan detik-detik kehidupan kita, semoga dengan demikian kita semua menjadi hamba-Nya yang bersyukur, bertaqwa dan diridhoi-Nya.

Wallahu a’lam bish showaab.

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.