Halloween party ideas 2015

Go Ihsan - Meski Muslim Prancis kerap menjadi sasaran aksi diskriminasi dan kekerasan, jumlah mereka terus bertambah dari hari ke hari. Alhasil, kebutuhan akan masjid pun terus meningkat.

Saat ini, jutaan umat Islam di negeri itu menginginkan peningkatan jumlah masjid, setidaknya dua kali lipat dalam waktu dua tahun ke depan.  Keinginan itu disuarakan oleh Mantan Presiden Dewan Muslim Prancis Dalil Boubakeur kepada jaringan televisi France 24, pekan lalu. Ia mengatakan, 2.200 masjid di negara itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan Muslim Prancis akan tempat ibadah.

Menurut dia, peningkatan jumlah masjid menjadi dua kali lipat dalam waktu dua tahun bukanlah hal yang tak masuk akal. “Saat ini terdapat banyak ruang shalat, masjid yang belum selesai dibangun, dan banyak pula masjid yang belum dibangun,” kata Boubakeur pada pertemuan tahunan organisasi Islam Prancis.

Pada pertemuan yang ke-32 ini, lebih dari 250 perwakilan Muslim dari seluruh Prancis hadir dan membahas berbagai isu penting, di antaranya keputusan Kementerian Dalam Negeri Prancis untuk melawan segala bentuk radikalisasi. Isu lainnya adalah perlunya meningkatkan jumlah masjid di Prancis, yang kini menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar di Eropa.


Amar Lasfar, presiden Persatuan Organisasi Islam Prancis (UOIF) yang menyelenggarakan pertemuan ini, sangat setuju bahwa jumlah masjid di Prancis harus dilipatgandakan. “Jumlah masjid harus mencerminkan jumlah Muslim (di Prancis),” katanya.

Menurut  Boubakeur, saat ini Prancis menjadi rumah bagi 7 juta Muslim, meski angka resmi menyebut jumlah yang lebih sedikit, yakni 4-5 juta Muslim. Dengan jumlah Muslim sebanyak itu, Prancis hanya memiliki sekitar 2.200 masjid. 

Bandingkan dengan Inggris yang populasi Muslimnya sekitar 2,8 juta orang, namun memiliki sekitar 1.500 masjid. Sehingga, perbandingannya adalah satu masjid untuk 1.850 orang.
Menurut hukum sekuler Prancis, negara dilarang memberi bantuan keuangan secara langsung untuk pembangunan tempat ibadah. Bahkan, belum lama ini Pemerintah Prancis juga tak mengizinkan pihak asing mendanai pembangunan masjid di negaranya.

Untungnya, kata Lasfar, kini makin sedikit wali kota di Prancis yang secara sistematis menentang pembangunan masjid. Hal inilah yang akan mempermudah pembangunan masjid. “Kami berhak membangun masjid, sebuah hak yang para wali kota itu tak bisa menentangnya,” ujar dia.

Uniknya, keinginan umat Islam akan hadirnya lebih banyak masjid di Prancis mendapat dukungan dari para tokoh Kristen. Mereka menyebut, keinginan kaum Muslimin itu sebagai tuntutan yang sah.

“Muslim, seperti halnya umat Kristen dan Yahudi, seharusnya dapat melaksanakan agama mereka dengan baik,” kata Juru Bicara Keuskupan Prancis Monsignor Ribadeau-Dumas kepada radio Europe 1.

Sebaliknya, partai sayap kanan Front Nasional menyebut keinginan umat Islam itu menggelikan dan berbahaya.

“Ada awan gelap yang menyelimuti pendanaan masjid-masjid di Prancis,” tuding partai ini dalam sebuah pernyataan.

Ia juga menuduh dukungan keuangan dari pihak asing itu bisa saja berkaitan dengan gerakan-gerakan jihad. “Jelas, ini sangat berbahaya bagi keamanan nasional,” kata Front Nasional.

Tudingan partai sayap kanan itu merupakan gambaran meningkatnya sentimen anti-Muslim di Prancis menyusul serangan berdarah terhadap kantor majalah satire Charlie Hebdo, Januari lalu.

Data menunjukkan, sepanjang Januari lalu, terjadi 167 aksi kekerasan atau ancaman terhadap masjid. Bandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat “hanya” terjadi 14 insiden kekerasan terhadap tempat ibadah umat Islam.

Boubakeur berharap, pertemuan tahunan organisasi Islam di Prancis ini bisa lebih menumbuhkan kesadaran umat Islam terkait keberadaan mereka di negeri ini.
“Islam di Prancis bukan lagi agama kaum imigran. Muslim punya hak untuk diakui dan dihargai oleh masyarakat Prancis, seperti halnya komunitas lainnya di negeri ini,” ujar dia.
Hal senada dikatakan Lasfar. “Kami setia pada negeri kami, Prancis. Kami cinta Allah, cinta Rasul kami, namun kami juga cinta Republik Prancis.”

Sumber : Islam Digest Republika

Go Ihsan - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Barat melihat, kebijakan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi dengan imbauannya agar mahasiswi dan dosen tidak bercadar, merupakan langkah keliru. Ketua MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar mengatakan, alasan administratif yang dikemukanan pihak kampus sama sekali tidak ilmiah.

Gusrizal melihat bahwa kekhawatiran pihak kampus bahwa pemakaian cadar akan membatasi komunikasi antara dosen dan mahasiswa bisa dipatahkan. Menurutnya, pembinaan tidak menuntut seseorang harus melihat wajah mahasiswinya, kecuali bagi mereka yang gemar memandang wajah perempuan yang bukan mahramnya.


"Apakah teori pembinaan hari ini menuntut pandang-memandang seperti itu? Saya tidak tahu, apakah ini pernyataan yang keluar dari akal yang berisi ilmu atau akal yang dikuasai nafsu," katanya, Rabu (14/3).

Gusrizal menambahkan, paling tidak ada dua alasan mengapa cadar tidak bisa dilarang di kampus, apalagi institusi yang mengusung agama Islam di dalamnya. Alasan pertama, lanjutnya, bahwa penggunaan cadar adalah hak muslimah. Sedangkan alasan kedua, bahwa pemakaian cadar adalah bagian dari pilihan menjalankan pandangan dan anjuran ulama.

"Bercadar itu diri Rasulullah. Istri-istri beliau, sahabat perempuan semasa beliau, banyak yang mengenakan cadar. Kita umat Nabi Muhammad, tapikok melarang bercadar. Di kampus Islami pula," tegasnya.

Gusrizal juga mengingatkan, pandangan ulama terhadap penggunaan cadar berbeda-beda. Meski begitu, dia menilai, bahwa khilafiah-nya bukan persoalan boleh atau tidaknya. Tapi, tentang tingkatan pensyariatannya. "Apakah wajib, sunat atau sebatas mubah," ujar Buya Gusrizal.

Berdasarkan pandangannya, pihak Kampus IAIN Bukittinggi terkesan mencari-cari alasan untuk melarang pemakaian cadar. Menurutnya, bila kejadian ini terjadi di tengah-tengah lembaga pendidikan yang berlabel Islam, hal ini menunjukkan betapa lemahnya intelektual para pengaku cendikiawan Muslim.

"Sehingga terperangkap dalam propaganda Islamophobia yang mengidentikkan cadar dengan terorisme atau jenggot dengan radikalisme," ujarnya.(sumber Republika)

Go Ihsan - Zuhud adalah salah satu akhlak utama seorang muslim, terutama saat dihadapannya terbentang lebar kesempatan untuk meraih dunia dengan segala perbendaraannya, apakah itu kekuasaan, harta kedudukan, dan segala fasilitas lainnya.

Karena itu, zuhud adalah karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan seorang mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.
Apalagi seorang yang menyandang predikat (gelar) da’i. Jika orang banyak mengatakan dia ‘sama saja’, tentu nilai-nilai yang didakwahinya tidak akan membekas ke dalam hati orang-orang yang di dakwahinya. Dakwah layu sebelum berkembang. Karena itu, stiap mukmin , terutama para da’i, harus menjadikan zuhud sebagai perhiasan jati dirinya.
Para ulama memperjelas makna dan hakikat zuhud. Secara syar’i, zuhud bermakna adalah mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas keperluan. Abu Idris al-Khaulani bekata, “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang semua harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah ketimbang apa yang ada di tangan kita. Ibnu Khafif berkata, “Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat nanti, sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang ditakuti bahayanya di akhirat nanti”.

Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Zuhudlah terhadap apa yang di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu. (HR.Ibnu Majah, Tabrani, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
Dalam generasi salaf dan tabi’in ada mutiara-mutiara yang indah dan cemerlang, yang menghiasi peradaban Islam, bukan peradaban materialisme. Betapapun mereka orang-orang yang memiliki kesempatan mereguknya. Tetapi, tak juga melakukan untuk mereguk kenikmatan itu.
Seperti kisah, Muhammad bin Waasi’ Al-Azdi, yang mendapatkan julukan guru orang-orang zuhud di zamannya. Ia hidup dizamannya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Saat itu di mana Yazid bin Muhallab bin Abi Sufrah, salah satu pedang Islam yang terhunus, dan menjadi wali di Khurasan yang kuat, bergerak dengan sangat bersama dengan pasukannya yang berjumlah seratus ribuorang, ditambah lagi dengan para sukarelawan dari mereka yang ingin mencaria syahadah dan mencari pahala.
Pasukan Islam yang dipimpin Yazid bin Muhallab ingin menaklukkan daerah Jurjan dan Thabaristan. Di barisan depan ada generasi tabi’in utama, bernama Muhammad bin Waasi’ dari Basrah yang dikenal dengan ‘Zainul Fuqaha’ (hiasan para ahli fikih), dan sering dipanggil Abid Basrah dan merupakan murid dari shahabat Anas bin Malik al-Anshari, pembantu Rasululah Shallahu Alaihi Wa Sallam.
Meski tubuhnya nampak kurus dan usianya yang sudah lanjut, Muhammad bin Waasi’, memegang posisi yang cukup penting dalam pasukan Islam. Pasukan Islam merasa terhibur dengan cahaya iman yang terpancar dari wajahnya yang cerah, dan makin bersemangat bila mendengar nasihat-nasihat yang keluar dari lidahnya yang lembut dan menjadi tenang karena do’anya yang mustajab bila mendapati kesulitan. Bila panglima perang menyeru, maka Muhammad Waasi’ menyeru, “Wahai pasukan Allah, menjulah!”, sebanyak tiga kali. Begitu mendengar suaranya, segenap prajurit pasukan Islam itu siap berperang menghadap musuh dengan penuh keberanian.
Ketika berlangsung peperangan yang amat dahsyat, terdapat seorang prajurit musuh, yang sangat tinggi dan kekar. Perang tanding satu lawan satu, antara pasukan Islam dengan pasukan musyrikin. Diantara pasukan musuh memiliki prajurit berbadan tinggi besar dan kekar, dan menantang Muhammad Waasi’ untuk berperang dengannya.
Keduanya berperang seperti seekor singa yang kalap. Yazid bin Muhallab, merasa sangat kagum melihat pertempuran yang dahsyat itu. Kilatan pedang dan senjata, yang bertubi-tubi. Muhallab bertanya, “Alangkah hebatnya. Siapakah dia?”. Orang-orang menjawabnya, “Dia adalah orang yang mendapat berkat doa dari Muhammad bin Waasi’”, ucap mereka.
Pertempuran yang sangat dahsyat itu disudahi dengan kemenangan pasukan Islam yang dipimpin oleh Yazid bin Muhallab. Kemudian, raja kaum musyrikin itu, menawarkan perdamaian kepada kaum muslmin, dan akan menyerahkan seluruh kekayaan negerinya asalkabn keluarga dan hartanya aman. Tawaran itu disetujui Yazid. Mereka harus membayar sebesar 700.000 dirham, menyerahkan 400 ekor unta bermuatan za’faran (kunyit), dan 400 orang yang setiap orangnya membawa satu gelak perak, memakai topi dari sutera dan beludru dan megnenakan mantel seperti yang dikenakan isteri-isteri prajurit mereka.
Perangpun usai, Yazid bin Muhallab berkata kepada bendaharanya, “Sisihkan sebagian ghanimah itu untuk kita. Berikan sebagai imbalan jasa kepada yang berhak”, tukasnya. Diantara ghanimah itu ditemukan pula oleh kaum muslimin sebuah mahkota terbuat dari emas murni bertatahkan intan permata beraneka warna dalam ukiran yang indah dipandang mata. Lalu, Yazid mengacungkan tinggi-tinggi, agar semua dapat melihat mahkota itu. Yazid berkata, Adakah kalian melihat orang yang tak menginginkan benda ini?, tanyanya. Mereka berkata, “Semoga Allah memperbagus keadaan Amir, siapa pula ylang akan menolak barang itu?”, tambahnya.
Yazid menukas, “Kalian akan melihat bahwa ada diantara umat Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam, senantiasa tidak menginginkan harta ini ataupun yang semacam dengan ini yang ada diatas bumi”, cetusnya. Kemudian Yazid memanggilnya pembantunya, “Carilah Muhammad bin Waasi’”. Lelaki tua itu ditemukan oleh pembantunya Yazid, dan ia dalam keadaan sedang berzikir, beristighfar, bersyukur dan berdo’a. “Amir Yazid memanggil anda sekarang juga”, ujar utusan itu. Maka, beliau berdiri dan berjalan mengikuti utusan Yazid.
kemudian pemimpin pasukan Islam, Yazid bin Muhallab bertemu dengan Muhammad bin Waasi’ berkata, “Wahai Abu Abdillah, pasukan muslimin telah menemukan mahkota yang sangat berharga ini. Aku melihat andalah yang layak untuk menerimanya, sehingga kujadikan mahkota ini sebagai bagianmu, dan orang-orang telah setuju”. Muhammad, “Anda menjadikan ini sebagai bagianku wahai Amir?”, tanyanya. Yazid, “Benar. Ini bagianmu”, tambahnya. Muhammad, “Aku tidak memerlukannya. Semoga Allah membalas kebaikan anda dan mereka”, tegas Muhammad. Yazid, “Aku telah bersumpah bahwa engkaulah yang harus mengambil ini”.
Dengan terpaksa Muhammad bin Waasi’ menerimanya dikarenakan sumpah amirnya. Setelah itu Muhammad berpamitan kepada Yazid dan meninggalkannya. Orang-orang yang tak mengenalnya berkata sinis, “Nyatanya dia bawa juga harta itu”.
Sementara itu Yazid memerintahkan prajuritnya menguntit sheikh itu dengan diam-diam, apa yang hendak dilakukannya terhadap benda yang sangat berharga itu.
Muhammad bin Waasi’ berjalan dengan menentang harta berharga ditangannya. Di tengah jalan beliau berjumpa dengan orang asing, yang kusut masai dan pakaiannya compang-camping meminta-minta kalau-kalau ada bantuan dari harta Allah Rabbul Alamin. Sheikh itu segera menoleh ke kanan dan ke kiri dan ke belakang … dan setelah yakin tidak ada yang melihat, diberikannya mahkota itu kepada orang yang miskin itu. Orang miskin pergi dengan suka-cita, seakan beban yang dipikulnya telah diangkat dari punggungnya.
Tanpa disadari seorang prajurit memegang tangan orang miskin itu, dan mengajaknya menghadap amir untuk menceritakan kejadiannya. Mahkota itu diambil lagi oleh amir, dan diganti dengan harta sebanyak yang dimintanya. Yazid berkata pasukannya, “Bukankah telah aku katakan kepada kalian bahwa diantara umat Muhammad senantiasa ada orang-orang yang tidak membutuhkan mahkota ini atau yang semisalnya”, ujar Yazid.
Sebuah kazanah dalam sejarah Islam, yang sangat berharga bagi kehidupan kaum muslimin, dan sekaligus tadzkiroh yang tak akan habis-habis.(Era)

Go Ihsan - Saat ini sepatu high heels maupun wedges sudah lazim dikenakan oleh para wanita, selain cantik... model sepatu ini pun diakui beberapa wanita membuat dirinya lebih percaya diri, akan tetapi benarkah sepatu model hak tinggi ini diharamkan dalam Islam?

Mari kita buka hati dan pikiran untuk membahas hal ini. Jangan sampai kecenderungan kita pada sesuatu, membuat kita bersikap tidak adil dan menutup-nutupi hukum yang sebenarnya.

Jika kita menanyakan hukum fiqih yang berkaitan dengan suatu benda, pastilah didasarkan pada tujuan atau niat kita dalam menggunakan benda tersebut. Contohnya golok, tentu tidak ada hukum fiqihnya, golok jika dipakai untuk menyembelih hewan qurban pasti diperbolehkan, akan tetapi jika dipakai untuk membunuh atau mengancam orang lain tentu menjadi haram hukum memakainya. Demikian juga dengan high heels, tergantung niat memakainya.

Dengan dasar ini, kita perlu mempertanyakan... apa sih niat atau tujuan kita mengenakan high heels atau wedges? Karena segala perbuatan dinilai bergantung niatnya.

Biasanya kaum wanita menggunakan high heels untuk menambah cantik penampilannya, jika ini diniatkan untuk suami... tentu memakai high heels di hadapan suami boleh-boleh saja jika dapat menambah kesenangan suami terhadap istrinya. Akan tetapi kalau menambah cantik penampilan ditujukan untuk menarik perhatian lawan jenis, atau untuk menyaingi kecantikan wanita lain, tentunya hal ini menjadi kurang berfaedah, bahkan Rasulullah shalallaahu 'alaihi wassalam mencelanya.


Dalam hadits dari Abu Said Al Khudri Radiyallaahu 'anhu, Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam pernah bercerita, "Ada seorang wanita Bani Israel yang bertubuh pendek memakai sandal dari kayu. Kemudian berjalan di antara dua wanita yang tinggi agar terlihat tinggi dengan sandal itu." (HR. Ibnu Hibban 5592 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya sumber kebinasaan pertama yang dialami Bani Israil adalah adanya seorang wanita miskin yang memaksakan diri untuk membeli baju dan parfum gaya wanita kaya… lalu beliau menyebutkan ada wanita bani Israil yang pendek, lalu dia memakai sandal tinggi dari kayu, dan cincin yang bermata besar, dan dia menaburi dirinya dengan wewangian. Lalu dia berjalan di antara 2 wanita yang tinggi badannya, sehingga banyak lelaki membuntuti mereka. orang mengenal dua wanita yang tinggi, tapi tidak kenal wanita yang memakai jinjit." (HR. Ibnu Khuzaimah)

Hadits di atas menunjukkan celaan bagi wanita yang memakai alas kaki jinjit. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan hal di atas dalam konteks celaan. Selain itu, kita perlu mempertimbangkan juga pemakaian high heels dari sisi tabarruj, penipuan, serta membahayakan kesehatan.

Allah melarang wanita melakukan tabarruj, yakni menampakkan “perhiasan” dalam pengertiannya yang umum yang biasanya tidak ditampakkan oleh wanita baik-baik, atau bisa juga memakai sesuatu yang tidak wajar dipakai, seperti berdandan secara berlebihan atau berjalan dengan berlenggak-lenggok, dan sebagainya. Karena menampakkan sesuatu yang biasannya tidak ditampakkan—kecuali kepada suaminya—akan mengundang decak kagum  laki-laki lain yang kemudian akan menimbulkan rangsangan atau mengakibatkan gangguan dari yang berlaku jahil. Tabarruj ini biasa dilakukan oleh wanita jahiliyah.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dengan tabarruj seperti orang-orang Jahiliyah…” (QS. al-Ahzab: 33).

Selanjutnya, pemakaian high heels juga bisa menjadi haram jika bermaksud menipu orang lain bahwa dirinya memiliki tubuh tinggi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang hal ini. Beliau bersabda,

المتشبِّعُ بِما لَم يُعْطَ كلابس ثوبَي زور

“Orang yang (berpura-pura) berpenampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian palsu (kedustaan).” (HR. Muslim 2129)

Terlebih lagi, sering menggunakan high heels bisa membahayakan kesehatan. Tekanan secara terus-menerus pada telapak kaki bagian depan akibat penggunaan sepatu hak tinggi, terutama yang berujung lancip atau yang ukurannya terlalu kecil dapat mengakibatkan kelainan bentuk kaki seperti:
Hammer toes: kondisi saat tiga jari kaki paling tengah menjadi bengkok. Bunion:  benjolan tulang pada sendi di pangkal jempol kaki.

Disamping itu, Tendon Achilles pada kaki memendek ketika mengenakan sepatu hak tinggi. Sehingga pemakaian hak tinggi terus-menerus dan dalam jangka panjang dapat mengakibatkan penyakit Achilles tendinitis.

Kondisi ini terjadi karena peradangan pada tendon Achilles atau jaringan ikat yang menghubungkan otot betis di kaki bawah bagian belakang ke tulang tumit. Selain otot betis yang terasa menegang saat meregangkan kaki, penyakit ini ditandai dengan nyeri dan bengkak pada tumit ketika berjalan.

Bukankah Islam melarang perbuatan yang dapat menimbulkan risiko kesehatan? Dengan demikian, jelas bahwa pemakaian high heels dengan niat yang keliru bisa menjatuhkan kita pada perbuatan dosa. Jika memang pekerjaan kita saat ini mengharuskan menggunakan high heels dalam rangka profesionalitas misalnya, dan kita tidak bisa menghindari pemakaian sepatu model ini, selama tujuannya bukan untuk tabarruj dan pemakaiannya tidak berlebihan, masih bisa dilakukan.

Tapi ingat... Berhati-hatilah jangan sampai kita mencelakai diri sendiri. Begitu banyak wanita yang sudah terbiasa memakai high heels, menjadi tidak pede ketika tampil tanpa high heels, bukankah ini menjadi indikasi ketergantungan terhadap barang fashion yang satu ini? Jangan-jangan kita lebih tidak pede dan merasa malu jika tampil tanpa high heels daripada tidak bisa membaca al quran dengan fasih.

Sumber: Konsultasisyariah

Go Ihsan - Salah satu dambaan kita dalam hidup ini adalah lahir dan terwujudnya generasi yang terbaik. Indikasi terwujudnya generasi yang terbaik memang sudah ada, misalnya dengan banyaknya kaum muslimin yang memiliki komitmen yang begitu kuat terhadap Islam sebagai agama yang harus diamalkan dalam kehidupan nyata dalam berbagai aspeknya.

Namun bila dibandingkan dengan generasi yang sebaliknya, rasanya terwujudnya generasi yang terbaik masih amat jauh, hal ini karena begitu banyak generasi manusia yang memiliki profil generasi yang terburuk. Dalam satu hadits, Rasulullah Saw menyebutkan tentang ciri-ciri generasi terburuk yang harus kita jauhi, hadits tersebut berbunyi:
"Akan datang suatu masa atas manusia: cita-cita mereka hanya untuk kepentingan perut, kemuliaan mereka dilihat dari perhiasan mereka, kiblat mereka adalah wanita-wanita mereka dan agama mereka adalah uang dan harta benda. Mereka itulah sejahat-jahat makhluk dan tidak ada bagian untuk mereka di sisi Allah". (HR. Dailami).
Dari hadits di atas, terdapat empat ciri dari generasi terburuk. Karena harus kita jauhi, maka memahami maksud hadits tersebut menjadi sesuatu yang amat penting. Keempat ciri generasi terburuk itu antara lain,
Pertama, mementingkan perut.
Salah satu keinginan manusia dalam hidupnya adalah memiliki perut yang kenyang dengan berbagai jenis makanan, kenyang pada dasarnya bukanlah sesuatu yang dilarang, tapi kalau segala sesuatu dilakukan untuk kepentingan perut merupakan sesuatu yang sangat berbahaya, itulah yang kini banyak terjadi pada masyarakat kita.
Mementingkan perut berarti seseorang ingin mendapatkan dan memiliki kekayaan meskipun dengan menghalalkan segala cara, bahkan meskipun seseorang sudah mendapatkan rizki secara halal, hal itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan diri dan keluarganya saja sehingga tidak peduli dengan kekurangan yang dialami oleh orang lain.
Akibat lain yang sangat berbahaya dari mementingkan perut adalah seseorang menjadi takut lapar, takut tidak mendapatkan rizki yang membuatnya takut menanggung resiko dalam menjalani kehidupan secara benar.
Karena itu, orang yang mementingkan perut menjadi manusia yang mau melakukan sesuatu bila menguntungkan secara materi sehingga motivasi dari apa yang dilakukannya adalah hal-hal yang dapat menyenangkan kehidupan duniawinya dan tidak mau melakukan sesuatu yang baik sekalipun, manakala hal itu mengakibatkan kesulitan dalam hidupnya, apalagi kalau sampai mengakibatkan perutnya menjadi lapar.
Oleh karena itu, ibadah Ramadhan mendidik kita menjadi manusia yang mampu menghadapi kehidupan lapar atau sulit meskipun sebenarnya pendidikan ini hanya berlangsung hanya dalam beberapa jam saja dalam satu hari. Itu sebabnya, kesabaran merupakan faktor penting dalam menghadapi cobaan lapar, Allah berfirman:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar". (QS 2:155).


Ciri kedua dari generasi terburuk yang harus kita hindari adalah memuliakan perhiasan.
Dalam hidup ini, manusia menghiasi dirinya dengan berbagai perhiasan hidup seperti rumah yang besar dan bagus, kendaraan yang mewah, pakaian yang mahal, perhiasan emas yang berat dan seterusnya.
Semua itu dijadikan sebagai ukuran bagi kemuliaan seseorang, padahal kita tahu bahwa hal-hal itu hanya aksesoris dalam kehidupan manusia, karena itu sangat naif bila semua itu dijadikan sebagai simbol kemuliaan, karenanya generasi terburuk menjadikan perhiasan hidup sebagai ukuran kemuliaan seseorang, sementara generasi yang mulia menjadikan ketaqwaan yang mantap sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang, karena Allah Swt akan memuliakan seseorang berdasarkan ketaqwaannya, Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu". (QS 49:13).

Manakala kemuliaan seseorang diukur berdasarkan perhiasan yang digunakannya, itu menunjukkan bahwa kita adalah hamba-hamba harta dan perhiasan yang sangat tercela, Rasulullah Saw bersabda:
"Binasalah hamba dinar, binasalah hamba dirham, binasalah hamba sutra/perhiasan" (HR. Bukhari).

Ketiga yang merupakan ciri generasi terburuk adalah mengagungkan wanita.
Salah satu dari ciri generasi terburuk adalah mengagungkan wanita. Yang dimaksud dengan mengagungkan wanita adalah menuruti syahwat atau nafsu seksualnya terhadap wanita yang tidak halal baginya atau memenuhi ajakan wanita untuk melakukan perzinahan, ini merupakan sesuatu yang sangat hina, karenanya harus dijauhi, Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk". (QS 17:32).

Karena itu, apabila seorang muslim mampu menolak ajakan wanita untuk berzina dengan perasaan takut kepada Allah, maka dia termasuk orang yang akan mendapat perlindungan dari Allah yang pada hari itu tidak ada perlingungan kecuali hanya dari Allah Swt, hal ini disabdakan oleh Rasulullah Saw:
"Tujuh golongan orang yang akan dinaungi oleh Allah yang pada hari itu tidak ada naungan selain naungan-Nya: … seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang punya kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: Sesungguhnya aku takut kepada Allah". (HR. Bukhari dan Muslim).

Disamping itu, mengagungkan wanita juga bisa kita pahami sebagai memenuhi keinginan-keinginan yang tidak baik dari wanita, termasuk seorang suami yang takut kepada isterinya sehingga harus memenuhi keinginan isterinya yang tidak benar, ketakutan kepada isteri membuat suami tidak berani meluruskan atau memperbaiki kesalahan isterinya, padahal isteri merupakan tanggung jawab suami untuk diselamatkan dari api neraka, Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu". (QS 66:6).

Ciri keempat dari generasi terburuk adalah gila harta.
Dalam Islam, uang dan harta merupakan sesuatu yang boleh dicari dan dimiliki bahkan Allah Swt memerintahkan manusia untuk mencari harta yang banyak, namun semua itu harus dalam kendali bukan malah manusia dikendalikan oleh harta, bila itu yang terjadi, maka harta telah dijadikan sebagai agama sehingga tujuan hidupnya adalah memperbanyak harta, termasuk dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya sehingga dengan demikian manusia dilalaikan oleh hartanya, ini merupakan sesuatu yang amat buruk, Allah Swt sendiri telah mengingatkan soal itu di dalam firman-Nya:
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu) itu". (QS 102:1-4).
Oleh karena itu, Allah Swt berfirman untuk mengingatkan orang-orang yang beriman agar tidak lupa kepada Allah hanya karena persoalan harta, Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi".(QS 63:9).
Dari gambaran di atas, amat terasa bahwa ciri-ciri generasi yang terburuk sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Saw ternyata dimiliki oleh generasi kita pada masa sekarang, itu sebabnya, diantara generasi kita yang hidup pada masa sekarang termasuk ke dalam kelompok generasi yang terburuk.
Karena itu, menjadi kewajiban kita bersama untuk memperbaiki generasi kita agar kehidupan masa depan dapat kita songsong dengan keyakinan dan optimisme sebagaimana mestinya. (Era M)

Go Ihsan - Stasiun televisi milik pemerintah kerajaan Arab Saudi, Saudi TV, akan menggunakan tambahan tujuh bahasa asing, salah satunya Bahasa Indonesia. Hal itu diungkapkan Wakil Presiden Departemen Teknik Saudi TV, Samir Asiri, kepada wartawan senior Indonesia di Riyadh, Selasa (20/2).

Stasiun TV pemerintah kerajaan Arab Saudi tersebut akan menggunakan Bahasa Indonesia karena negara berpenduduk Islam terbesar di dunia itu memiliki populasi yang besar dan merupakan salah satu negara Islam yang penting, kata Samir.


"Indonesia dan Saudi Arabia memiliki hubungan yang sangat mendalam yang telah dibangun oleh pemimpin kedua negara tersebut," kata Samir.

Samir yang juga pernah berkunjung ke Indonesia mengatakan pihaknya setiap tahun mengundang media dari berbagai negara termasuk Indonesia utamanya untuk meliput pelaksanaan haji di Saudi Arabia.

"Kami juga berencana untuk melakukan kerja sama dengan media di Indonesia antara lain dalam pertukaran program televisi," katanya.

Sebelum ada kerja sama, Samir mengatakan media Indonesia bisa mengambil berita atau tayangan Saudi TV terutama tentang kegiatan pelaksanaan haji dan umrah melalui internet secara gratis.

Selain Bahasa Indonesia, menurut Samir, tahun depan Saudi TV juga akan menggunakan bahasa asing lain seperti bahasa Spanyol, Portugal serta bahasa-bahasa Afrika.

Samir menjelaskan bahwa penambahan beberapa bahasa asing tersebut merupakan bentuk dukungan Saudi TV bagi suksesnya Visi 2030 Saudi Arabia.

Pemerintah Indonesia telah menyatakan dukungannya bagi Visi 2030 Saudi Arabia tersebut yang telah diumumkan oleh Putra Mahkota Kerajaan tersebut, Muhammad bin Salman. (Ant/Rep)
Diberdayakan oleh Blogger.