Halloween party ideas 2015

Go Ihsan - Iman yang ada di dalam hati Imam al-Ghazali berusaha mengingatkan, Pergi lah, usiamu tak lama lagi. Perjalanan menuju Ilahi masih sangat jauh.

Sementara ilmu dan amal yang ada hanya berupa kesombongan dan prasangka. Jika engkau tidak segera fokus ke akhirat maka tak ada waktu lagi.

Kemudian hawa nafsu tak mau kalah. Kekuatan ini menyerukan bahwa meninggalkan dunia hanyalah sementara. Jangan sampai melakukan hal itu lagi. Jika kau tinggalkan jabatan yang mulia ini beserta derajat yang telah mapan, ada lah capaian yang tidak mudah, kata hawa nafsu dalam hati alGhazali yang penuh kege lisahan.

Selama enam bulan al-Ghazali mengalami kegelisahan batin seperti itu, terombang-ambing dalam pilihan, apakah akan meninggalkan kehidupan yang sudah didapatnya dengan susah payah atau melanjutkan apa yang sudah ada.

Al-Ghazali berusaha untuk tetap mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya.

Entah kenapa, tiba-tiba mulut dia tak bisa berkata apa-apa. Badannya menjadi lemah, sehingga tak bisa mengajar. Dokter pun tak bisa memulihkan keadaan tersebut.

Hadza amrun nazala bil qalbi(ini permasalahan hati). Ini tak bisa pulih, kecuali hati sudah terbebas dari belenggu kegelisahan yang ada di dalamnya, kata dokter yang hendak mengobati Abu Hamid.

Pada titik itu, sang imam kembali mengingat Allah sebagai orang yang terpaksa dan tak berdaya. Sang Pencipta mengabulkan apa yang diminta hamba yang terdesak dan mau berdoa. Sejak itu, Allah memudahkan al-Ghazali untuk menempuh riyadhah bathini yah(olah batin) yang memalingkannya dari kekayaan, jabatan, keluarga, dan kerabat.(Rep)

Go Ihsan - Menjelang sore pada Oktober dua tahun yang lalu, seorang penjaga toko di Kota Tua Yerusalem tengah memikirkan perjumpaannya dengan seorang pemuda yang meminta pemantik, meski tak membawa rokok.

Lamunannya buyar seketika begitu mendengar jeritan dan keributan besar. Saat melangkah keluar dari toko, ia melihat si pemuda tengah menusuk warga Yahudi pendatang dengan pisau.
Pemuda tersebut sebelumnya merebut pistol si pendatang dan menembakkannya ke pendatang lainnya. 

Pemilik toko itu segera merunduk di dalam tokonya. Dialah yang kemudian menceritakan kepada media local bahwa ia belum pernah melihat seorangpun yang melakukan serangan semacam itu dengan cukup tenang, bahkan sangat tenang. 


Pemuda itu adalah Muhannad Halabi. Mahasiswa hukum di Universitas Al-Quds tersebut berusia 19 tahun saat kejadian. Beberapa pekan kemudian ia akan genap 20 tahun.
Muhannad Halabi mati tertembak tentara Israel di tempat kejadian. Sebelum ajal menjemputnya, dua orang Israel tewas di tangannya. Dua orang lainnya terluka.
Tindakan Muhannad Halabi dianggap heroik oleh masyarakat Palestina. Peristiwa pada Oktober 2015 itu pun menjadi pemicu kebangkitan perlawanan perseorangan pemuda Palestina terhadap Israel. 

Pemakaman Muhannad Halabi menjadi yang terbesar yang pernah warga Tepi Barat saksikan sejak akhir Intifada II di 2005. 

Ayah dari Muhannad Halabi, Shafiq Halabi, menjelaskan anaknya tergerak melawan lantaran batinnya terluka mengetahui perempuan-perempuan Palestina disiksa secara fisik oleh petugas keamanan Israel di kompleks masjid Al Aqsa. Dia juga amat berduka dengan pembantaian Palestina saat perang melawan Israel di Jalur Gaza pada 2014.

Shafiq Halabi mengatakan pada Aljazirah bahwa putra Palestina hanya mengikuti kata hati.
"Mereka melihat tidak ada alternatif lainnya untuk menghadapi tekanan Israel kecuali dengan melancarkan perlawan," kata Halabi, Rabu (4/10).

Dua tahun berselang, serangan perseorangan telah mereda. Namun, serangan kali ini lebih bersifat sporandis dan telah menyebabkan setidaknya 285 orang Palestina dan 42 orang Israel terbunuh.

Menurut Palestinian Prisoners Center for Studies, 14 ribu Palestina ditangkap sejak Oktober 2015 hingga September 2017, termasuk di antaranya 3.100 anak dan 437 perempuan.
Serangan terakhir dilakukan oleh seorang buruh, Nimer Jamal. Tembakan ayah empat anak ini menewaskan empat petugas keamanan Israel di Har Adar, permukiman tempat ia bekerja.

Percikan gelombang perlawanan

Perlawanan yang sempat digadang-gadang sebagai Intifada III tersebut berakhir dengan serangan terputus-putus.

"Ini cuma percikan gelombang perlawanan, sebuah reaksi yang muncul akibat ketiadaan rencana aksi dari pemimpin Palestina untuk melawan pendudukan," komentar analis politik yang berbasis di Ramallah, Hani al-Masri. 

Menurut Masri, pergerakan yang ada saat ini tak mencerminkan upaya terorganisir yang dapat terakumulasi menjadi gerakan yang berkelanjutan.

Agar Intifada menjadi inklusif, Masri menjelaskan, gerakan harus memiliki kepemimpinan yang terpadu, sebuah agenda, dan tujuan. 

"Perpecahan politik antara Fatah dan Hamas telah menguras energi masyarakat Palestina," ujarnya.

Masri memandang, andaikan upaya rekonsiliasi berhasil, Palestina akan dapat merintis perlawanan yang lebih luas. "Akan tetapi, Otoritas Palestina tak percaya akan Intifada atau teknik perlawanan komprehensif," komentarnya. 

Serangan akan berlanjut

Shafiq Halabi memandang perlawanan para pemuda Palestina membuktikan mereka masih memiliki kesadaran dan rasa memiliki akan Tanah Airnya, terlepas dari kenyataan yang bertolak belakang.

"Kalau generasi yang lebih tua, mereka yang menyaksikan intifada pertama serta aktif di tahun 70-an dan 80-an, tidak menjadi bagian dari gelombang perlawanan berikutnya, itu bukanlah kebetulan," ujarnya.

Shafiq Halabi mengatakan, kondisi para pemuda Palestina saat ini sangat mengenaskan. Mereka telah menyaksikan betapa Otoritas Palestina selama 24 tahun ini tak berbuat apapun untuk memperbaiki keadaan mereka yang terus memburuk.

"Selama kekejaman dan kejahatan Israel terus terjadi, serangan pemuda Palestina akan terus berlanjut," ujarnya.

Shafiq Halabi mengatakan, kondisi para pemuda Palestina saat ini sangat mengenaskan. Mereka telah menyaksikan betapa Otoritas Palestina selama 24 tahun ini tak berbuat apapun untuk memperbaiki keadaan mereka yang terus memburuk.

"Selama kekejaman dan kejahatan Israel terus terjadi, serangan pemuda Palestina akan terus berlanjut," ujarnya. (Rep)

Go Ihsan - Sekitar 20 tahun sebelum Muhammad bin Abdullah mendapatkan wahyu, seorang Arab bernama Siban bin Malik memerintah Kota al Buallah atas nama Kaisar Persia Khosrow II. Kota ini sekarang menjadi bagian dari Basrah, terletak di tepi sungai Eufrat.

Sinan tinggal di sebuah istana mewah di tepian sungai. Dia memiliki beberapa anak. Yang paling disayanginya berusia lima tahun, namanya Suhaib Anak berambut pirang itu dikenal aktif, sehingga selalu menyenangkan ayahnya.


Pada suatu hari sang ibu membawa Suhaib dan anggota keluarga lain nya bertamasya mengunjungi sebuah desa. Perjalanan yang seharusnya penuh keceriaan itu berubah menjadi kengerian yang dikenang sepanjang hidup. Perjalanan itu juga memengaruhi kehidupan Suhaib.

Ketika itu, desa yang menjadi tujuan mereka bertamasya diserang tentara Byzantium. Para pasukan merampok desa tersebut. Para penjaga yang menyertai pesta piknik itu tak mampu melawannya dan terbunuh. Barang-barang disita. Mereka yang hidup dipenjara, termasuk Suhaib bin Sinan.

Suhaib dibawa ke salah satu pasar budak di Konstantinopel untuk dijual. Setelah itu, ia berpindah dari tangan majikan ke yang lain. Nasibnya tidak ber beda dengan ribuan budak lainnya yang memenuhi rumah dan istana penguasa dan 'kaum darah biru' Byzantium.

Suhaib menghabiskan masa kecil dan mudanya sebagai budak. Selama sekitar 20 tahun dia tinggal di tanah Byzantium. Ini memberinya kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman langka tentang negeri tersebut yang kelak ditaklukkan Muhammad al-Fatih dari Turki.
Dari istana, dia melihat sendiri adanya ketidakadilan dan korupsi. Dia membenci budaya keji tersebut. "Masyarakat seperti ini hanya bisa dimurnikan dengan banjir besar," kata dia.

Suhaib menguasai bahasa Yunani, bahasa resmi di sana. Dia praktis melupakan bahasa Arab. Tapi, dia tidak pernah lupa bahwa dia adalah anak gurun. Dia merindukan hari ketika bebas bersama dengan masyarakat di daerahnya berlari-lari, menunggangi kuda dan unta sejauh mungkin.

Suhaib mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari perbudakan dan langsung menuju Makkah yang merupakan tempat berlindung untuk mencari suaka. Ketika berhasil mencapai Makkah, dia diberi julukan ar-Rumi, orang Romawi.
Masyarakat Makkah mengenal Suhaib dari logatnya dan penampilannya yang berambut pirang. Dia aktif membantu pejabat Makkah ketika itu, Abdullah bin Judan. Banyak aktivitas perdagangan yang tidak lepas dari keterlibatan Suhaib.(rep)

Go Ihsan - Sagiran yang merupakan dokter ahli bedah ini sudah meraih prestasi yang baik dalam bidang kedokteran. Jenjang pendidikan untuk menjadi ahli medis sudah dilaluinya di perguruan tinggi ternama. Jam terbang menjadi dokter pun sudah cukup tinggi. Berbagai kenikmatan kehidupan duniawi sudah dialaminya.


Pada saat itu, dia merasakan apa harus menjalani kehidupan seperti itu terus-menerus. Gempa Yogyakarta pada 2006 menjadi peringatan untuknya. Ketika itu dia dipertemukan dengan Ust Yusuf Mansur membahas penanganan korban bencana alam tersebut.

Klinik Nur Hidayah yang dikelolanya kebanjiran pasien. Sagiran menghabiskan waktu untuk menangani korban bencana yang terus berdatangan.

Pertemuan dengan pendakwah kondang itu ternyata berlanjut. Ust Yusuf selalu menyarankan Sagiran untuk intens mendalami Alquran. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu mengikuti perjalanan dakwah Yusuf, seperti sedekah, dan menggiatkan hafalan Alquran.

Kariernya sebagai dokter juga mengundang keingintahuannya untuk mencari ayat-ayat tentang kedokteran. Dia mencari ayat tentang penciptaan manusia. Kemudian penjelasannya diperkaya dengan khazanah kedokteran.

Kini Sagiran juga aktif menyelenggarakan program pembibita penghafal Al quran (PPPA) Darul Qur'an di Yogyakar ta. Berdiskusi tentang medis dan spiritual Islam juga tetap dilakoninya di berbagai forum.

Keyakinan yang selalu dipegangnya adalah spiritual Islam selalu menjadi penyejuk yang menga rah kan manusia kepada hakikat kehidupan.

Dia juga aktif menulis berbagai buku, seperti Islam dan Etika Kedokteran, Evolution Towards Better Ummah, Panduan Etika Medis, dan banyak lagi. Dia juga membuat makalah yang dipresentasikan dalam berbagai forum.(Rep)

Go Ihsan - Oleh: Said Abdul  Azhim
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa dan menyembunyikan ketaqwaannya.  Ketika mereka tidak ada, orang-orang tidak merasa kehilangan…Jika mereka ada , orang-orang tidak mengetahuinya serta tidak mengetahui kalau mereka adalah mercusuar yang menerangi.  Mereka keluar dari setiap kegelapan. Berusahalah agar engkau senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah..

Jika apa yang engkau perbuat ketahuan dan tersebar, maka hiduplah dalam peribadatan kepada Rabb mu. Jauhilah ketenaran tersebut dari apa-apa yang menghalangi dirimu untuk mendekat kepada Tuhanmu. Apabila engkau tidak dapat menghindarinya, maka jadilah salah satu dari golongan orang-orang yang mulia.

Camkanlah, bahwasanya Allah  Subhanahu wa Ta’aala melihat dan memperhatikanmu. Barangsiapa yang lambat dalam beramal, maka dia tidak akan mempercepat kedudukannya. “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya , lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. 
Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. (Qs Al Mujaadilah (58): 6)


Maka bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada, baik dalam kesendirianmu ataupun ketika engkau berada di tengah keramaian. Takutlah kepada Allah atas dasar kedekatan-Nya kepadamu serta ketetapan-Nya untukmu, karena engkau tidak akan pernah keluar dari ruang lingkup kekuasaan dan kerajaan-Nya kepada kekuasaan serta kerajaan lainnya. Di hadapan Allah Jalla wa  ‘ala’  tidak ada amal sekecil dzarrah pun yang akan sia-sia, semua itu akan dibalas. Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullahu Shallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman kepada Jibril, “Aku telah mencintai si fulan, oleh karena itu cintailah ia. “Maka Jibril pun mencintainya. Lalu dia menyeru kepada penduduk langit, “bahwasanya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Penduduk langit pun mencintainya, kemudian menjadikannya orang yang diterima di atas permukaan bumi” (Shahih: HR Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah meriwayatkan pula dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda, “Tujuh orang yang dinaungi oleh Allah dalam naungannya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.”  Dia menyebutkan diantaranya, “Seseorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” Juga dia menyebutkan , “Seseorang yang mengingat Allah dalam kegelapan malam hingga menetes air matanya, dan seseorang yang diajak (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan lagi cantik jelita lalu dia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” (Shahih: Mutafaqqun ‘Alaihi).

Jadikanlah dirimu senantiasa kepada Allah, baik ketika engkau berada di kampung halamanmu ataupun ketika engkau berpergian. Ketika engkau berani ataupun ketika engkau takut. Dalam perkataan juga perbuatanmu. Mohonlah kepada Allah akan keutamaan-Nya, karena tidak seorangpun yang menentang Allah kecuali dia akan binasa.

sumber;eramuslim

Go Ihsan - Dunia Barat terkejut dengan penaklukan Konstantinopel. Penaklukan tersebut sekaligus menandai berakhirnya runtuhnya kekaisaran Romawi. Adalah sosok Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Kekhalifahan Utsmaniyah dibalik takluknya ibukota Romawi Timur tersebut.

Mehmet II, demikian gelar sultan yang disandangnya, lahir di Edirne, pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M. Sejak kecil oleh ayahnya, Sultan Murad II, dididik untuk menjadi pemimpin yang tangguh dan berani. Dengan bimbingan ulama-ulama besar kala itu, Al-Fatih mampu menguasai beragam ilmu dan bahasa termasuk strategi perang.

Sultan murad II percaya bahwa anaknyalah yang akan menjadi penakluk Kontatinopel. Sebelumnya Rasulullah SAW “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].Dan itulah yang membuat ayahnya menaruh kepercayaan dan harapan besar kepadanya.


Berikut teladan Muhammad Al-Fatih selama memerintah Utsmaniyah:

1.  Banyak mempelajari berbagai bidang ilmu

Seperti yang dijelaskan diatas, sejak kecil Muhammad Al Fatih sudah dididik oleh ulama-ulama besar yang diminta ayahnya untuk membantunya. Banyak sekali yang ia pelajari meskipun usianya yang masih belia yaitu belajar Alqur’ān, hadis, fikih, dan ilmu modern lainnya seperti ilmu berhitung, ilmu falak, sejarah, serta pendidikan kemiliteran, secara teori maupun praktis. Selaain itu, juga belajar berbagai mata pelajaran, mulai dari matematika, fisika, astronomi, seni perang praktis, militer, dan ilmu-ilmu lainnya.

Dengan kekuasaannya yang ia miliki, tidak menjadikannya lupa akan ibadahnya. Muhammad Al Fatih sangat giat dalam beribadah walaupun dalam keadaan genting sekalipun dia tetap menjalankan kewajibanya dan selalu berdoa akan keselamatan dan kemenangan atas pasukannya dan juga Islam.

Sejak kecil Fatih juga mempelajari berbagai bahasa,seperti bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Pada usia 21 tahun Fatih sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.

2.  Belajar dari sejarah

Muhammad Al Fatih menjadikan sejarah sebagai panutanya, dari sejarah lah ia belajar bagaimana atau apa yang harus dilakukan dalam menghadapi suatu masalah. Dan itulah yang membuat ia menjadi salah satu pemimpin perang yang sangat terkenal dengan berbagai strategi cemerlang.

Kecerdasan yang ia miliki selalu membuat lawannya terkejut. Dengan berbagai taktik dan juga rencana yang ia persipakan dengan sedemikan rupa dan kebanyak berhasil membuat lawan kalah. Contohnya yang dilansir dari kumparan.com dalam upaya membebaskan kota Konstantinopel. Al-Fatih memindahkan kapal-kapal dari pangkalannya di Baskatasy ke Tanduk Emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang ada di anatara dua pelabuhan, sebagai usaha menjauhkan kapal-kapal itu dari Galata karena khawatir mendapat serangan dari pasukan Genova.  

Jalan darat  yang dilaluinya bukanlah tanah yang datar, namun berupa bebukitan. Melihat kondisi demikian, Al-Fātiḥ berusaha meratakan tanah hanya dalam hitungan jam. Ia kemudian juga mendatangkan papan dari kayu yang diberi minyak dan lemak. Setelah itu papan-papan tadi ia letakan di atas tanah yang sudah rata, yang memungkinkan kapal-kapal pasukannya mudah untuk ditarik dan berjalan.


3.  Pemimppin Tangguh
Muhammad Al Fatih sangat terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang sangat hebat dan membuat kawan atau lawannya merasa kagum dengannya. Ia sangat berhati-hati dalam menjalankan sesuatu dengan rencananya yang cerdas. Pasukannya pun sangat terkenal dengan kehebatanya karena ia memilih tentaranya dengan hati-hati.

Kemimpinan terbukti berhasil membawa rakyatnya hidup sejahtera dengan berbagai kebijakan yang ia tetapkan, bahkan tidak hanya dengan umat Muslim saja, tetapi pada umat Kristen pun ia masih bersikap adil, dan membuat banyak yang kagum akan kepemimpinannya. (Rep)
Diberdayakan oleh Blogger.