Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

Go Ihsan - Para advokat yang tergaabung dalam Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) melaporkan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan dugaan rasis dan menghina Agama Islam. Laporan dengan Nomor :11/B/ACTA/lX/2016 ACTA diterima oleh Bawaslu DKI sekitar pukul 13.00 WIB, Selasa (27/9/2016).


Wakil Ketua ACTA, Agustiar menjelaskan, ACTA menaruh perhatian serius atas sikap Ahok yang beberapa hari lalu secara terbuka di depan umum mengatakan jangan menggunakan Al Quran Surat Al Maidah ayat 51 yang melarang memilih kafir. Pernyataan tersebut sangat memprihatinkan karena diduga melangggar beberapa ketentuan hukum.

Pertama, kata Agus, Ahok telah  melanggar Pasal 15 UU Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Secara garis besar pasal tersebut mengatur larangan pembatasan berdasarkan ras dan etnis yang mengakibatkan pengurangan pengakuan hak asasi manusia.

Sebagaimana diketahui bahwa menjalankan perintah Alquran termasuk mematuhi Surat AI Maidah ayat 51 merupakan bagian hak asasi umat muslim untuk menjalankan perintah agama.

"Jadi Ahok jangan hanya bisa menuduh orang lain rasis, dia harus introspeksi apa yang dia lakukan rasis atau tidak," tegas Agustiar di kantor Bawaslu DKI Jakarta, Selasa (27/9/2016).

Agus melanjutkan, Ahok juga melanggar Pasal 156 KUHP junto Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 UU ITE tentang penghinaan terhadap agama.

"Sebagai orang yang tidak beragama Islam. Ahok tidak memiliki kapasitas untuk mengarahkan makna Surat Al Maidah 51 bagi umat Islam. Lagipula Surat Al Maidah 51 sudah sangat jelas artinya yaitu larangan bagi umat Islam untuk
mengambil orang-orang yahudi dan nasrani untuk menjadi pemimpin," kata Agus.

Pihaknya  berharap agar Bawaslu DKI Jakarta bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Apa yang disampaikan Ahok tersebut sangat sensitif dan bisa memicu kemarahan umat Islam.

"Bawaslu harua bergerak cepat merespon pernyataan Ahok tersebut dengan memanggil Ahok dan memberikan peringatan," terangnya.

Ahok Berkilah

Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) menjelaskan mengapa ia mengutip surat Al Maidah ayat 51, menurut Ahok, surat itu sering dipakai melakukan kampanye negatif kepadanya.

Bahkan Ahok menegaskan tidak ada hal yang salah dengan dirinya yang beragama Kristen Protestan, mengutip kalimat dalam Alquran.

"Semua firman Tuhan bisa dikutip kok. Kenapa aku enggak boleh ngutip firman Tuhan?" ujar Ahok di sela-sela kunjungan ke Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/2016), seperti dikutip Sindonews.

Seperti diberitakan, Calon Gubernur DKI Basuki T Purnama (Ahok) mengajak untuk mengabaikan surat Al Maidah ayat 51 dalam memilih pemimpin.

“Jangan tak pilih saya karena Almaidah 51,” ujar Ahok dalam jumpa pers bersama wakilnya, Djarot S Hidayat, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, serta ketua tim pemenangannya, Nusron Wahid di Jakarta, Rabu (21/9), seperti dikutip JPNN.
Surat Almaidah ayat 51 adalah ayat dalam Alquran yang melarang umat Islam memilih calon pemimpin dari kalangan Nasrani dan Yahudi.

Bunyinya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."



Go Ihsan- Imam Masjidil Al Haram Asy-Syaikh Su’ud asy-Syuraim dalam sebuah Khutbah Jumat beliau berkata:

Adakah dari kita yang tidak melihat perubahan dalam kehidupannya setelah masuknya WhatsApp, Facebook, Instagram dan yang lainnya dalam kehidupannya 



Hal ini merupakan " *Ghazwul fikri* " yang menyerang akal.

Namun sangat disayangkan kita telah tunduk padanya dan kita *telah jauh dari dien Islam yang lurus dan dari dzikir kepada Allah* .

Kenapa hati kita mengeras


Itu karena seringnya kita melihat cuplikan video yang menakutkan, dan juga kejadian-kejadian yang di-share..

Hati kita kini mempunyai kebiasaan yang tak lagi takut pada sesuatu pun. Oleh karena itulah, hati kita menjadi mengeras bagai batu.

Kenapa kita terpecah belah dan kita putus tali kekerabatan ?

Karena kini silaturrahmi kita hanya via WhatsApp saja, seakan kita bertemu mereka setiap hari.

Padahal bukan begitu tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam

(Kita perlu datang secara fisik, mengucap salam, bersalaman, membawa oleh-oleh, saling ingat mengingat kan, nasihat menasihati, saling doa mendoakan, dll) .

Kenapa kita sangat sering mengghibah (ngrumpi), padahal kita tidak sedang duduk dengan seorang pun?*

Itu karena saat kita mendapatkan satu message yang berisi ghibah terhadap seseorang atau suatu kelompok, dengan cepat kita sebar ke grup-grup yang kita punya.

Dengan begitu cepatnya kita mengghibah, sedang kita tidak sadar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu .

Sangat disayangkan, kita telah menjadi pecandu.

Kita makan, handphone ada di tangan kiri kita .

Kita duduk bersama teman-teman, HP ada di genggaman.

Berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi handphone ada di tangan pula* . 


Sedang mengemudi kendaraan, HP juga di tangan.

Sampai-sampai anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, karena kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone.

"Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan pada teknologi ini.

Karena sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal, betapa kita merasa sangat kehilangan...

Ah, andai perasaan seperti itu ada juga pada shalat dan tilawatul (pembacaan) Quran kita..."

Adakah dari kita yang mengingkari hal ini? Dan siapa yang tidak mendapatkan perubahan negatif dalam kehidupannya, setelah masuknya teknologi ini pada kehidupannya dan setelah menjadi pecandu?

Demi Allah, Siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur?

Apakah HP

Mari kita sama-sama kembali kepada Allah, jangan sampai ada hal-hal yang menyibukkan kita dari dien (agama) kita. Karenanya kita tidak tahu, berapa lamakah sisa umur kita".

ALLAH berfirman: “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”. QS.Thoha: 124.

Semoga handphone yang kita miliki adalah wasilah untuk kebaikan dan bukan wasilah dalam keburukan..* .

Jangan disembunyikan nasihat ini, agar tidak menjadi seseorang yang menyembunyikan ilmu...

repost from group dakwah whatsapp



Go Ihsan - Dihikayatkan bahwa seseorang dari kalangan orang-orang shalih melewati seorang laki-laki yang terkena penyakit lumpuh separuh badan, ulat bertebaran dari dua sisi perutnya, lebih dari itu ia juga buta dan tuli. Lelaki lumpuh itu mengatakan, “segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanmu dari cobaan yang telah dialami oleh banyak orang.” Lantas lelaki shalih yang lewat itu heran, kemudian bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku! Apa yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari dirimu padahal saya melihat semua musibah, menimpa dirimu?” Ia menjawab, “Menyingkirlah kamu dariku hai pengangguran! Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyelamatkanku karena Dia menganugerahkan kepadaku lisan yang selalu mentauhidkan-Nya, hati yang dapat mengenal-Nya, dan waktu yang selalu kugunakan untuk berdzikir kepada-Nya.”

Dihikayatkan pula bahwa ada seorang yang shalih yang apabila ditimpa sebuah musibah atau mendapat cobaan, selalu berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Pada suatu malam serigala datang memangsa ayam jagonya, kejadian ini disampaikan kepadanya, maka ia pun berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Kemudian pada malam itu pula anjing penjaga ternaknya dipukul orang hingga mati, lalu kejadian ini disampaikan kepadanya. Ia pun berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Tak berapa lama keledainya meringkik, lalu mati. Ia pun berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik, insya Allah.” Anggota keluarganya merasa sempit dan tidak mampu memahami mengapa ia mengucapkan perkataan itu. Pada malam itu orang-orang Arab datang menyerang mereka. Mereka membunuh semua orang yang ada di wilayah tersebut. Tidak ada yang selamat selain dia dan keluarganya. Orang-orang Arab yang menyerang tersebut menjadikan suara ayam jago, gonggongan anjing, dan teriakan keledai sebagai indikasi bahwa sebuah tempat itu dihuni oleh manusia, sedangkan semua binatang miliknya telah mati. Jadi, kematian semua binatang ini merupakan kebaikan dan menjadi penyebab dirinya selamat dari pembunuhan. Maha Suci Allah Yang Maha Mengatur dan Maha Bijaksana.


Al-Mada’ini menceritakan,

“Di daerah pedalaman saya pernah melihat seorang perempuan yang saya belum pernah melihat seorang pun yang lebih bersih kulitnya dan lebih cantik wajahnya daripada dirinya. Lalu saya berkata, “Demi Allah, kesempurnaan dan kebahagiaan berpihak kepadamu.” Lantas perempuan tersebut berkata, “Tidak. Demi Allah, sesungguhnya saya banyak dikelilingi oleh duka cita dan kesedihan. Saya akan bercerita kepadamu. Dulu saya mempunyai seorang suami. Dari suami saya tersebut saya mempunyai dua orang anak. Suatu ketika ayah kedua anak saya ini sedang menyembelih kambing pada hari raya Idul Adha. Sedangkan anak-anak sedang bermain.” Lantas anak yang lebih besar berkata kepada adiknya, “Apakah kamu ingin saya beritahu bagaimana cara ayah menyembelih kambing?” Adiknya menjawab, “Ya.” Lalu si kakak menyembelih adiknya. Ketika si kakak ini melihat darah, maka ia menjadi cemas, lalu ia melarikan diri ke arah gunung. Tiba-tiba ia dimangsa oleh serigala. Kemudian ayahnya keluar untuk mencari anaknya, ternyata ia tersesat di jalan sehingga ia mati kehausan. Akhirnya saya pun hidup sebatang kara.” Lantas saya bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau bisa sabar?” Ia menjawab, “Apabila peristiwa tersebut terus-menerus menimpa saya, pasti saya masih merasakannya. Namun, hal itu saya anggap hanya sebuah luka, hingga akhirnya ia pun sembuh.”

Pada saat putranya meninggal dunia, Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Berkata, “Ya Allah! Jika Engkau memberi cobaan, maka sungguh Engkau masih menyelamatkanku. Jika Engkau mengambil, sungguh Engkau masih menyisakan yang lain. Jika Engkau mengambil sebuah organ, sungguh Engkau masih menyisakan banyak organ yang lain. Jika Engkau mengambil seorang anak, sungguh Engkau masih menyisakan beberapa anak yang lain.”

Al-Ahnaf bin Qais mengatakan,

“Saya mengadukan sakit perut yang saya alami kepada pamanku, namun ia malah membentakku seraya berkata, “Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengeluhkannya kepada seorang pun. Sesungguhnya manusia itu ada dua macam. Teman yang kamu susahkan dan musuh yang kamu senangkan. Janganlah engkau mengeluhkan sesuatu yang menimpa dirimu kepada makhluk sepertimu yang tidak mampu mencegah bila hal serupa menimpa dirinya. Akan tetapi, adukanlah pada Dzat yang memberi cobaan kepadamu. Dialah yang mampu memberikan kelonggaran kepadamu. Hai putra saudaraku! Sungguh, salah satu dari kedua mataku ini tidak dapat melihat semenjak empat puluh tahun lalu. Saya tidak memberitahukan hal ini kepada istri saya dan kepada seorang pun dari keluarga saya.”

Ada seorang yang shalih mendapat cobaan terkait putra-putranya. Ketika ia dianugerahi dua orang anak dan baru saja mulai beranjak besar sehingga membuatnya bahagia, tiba-tiba anaknya dijemput kematian. Ia ditinggalkan anaknya dengan penuh kesedihan dan patah hati. Akan tetapi, lantaran kuatnya iman, ia hanya dapat mengikhlaskan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabar seraya berkata, “Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala – segala sesuatu yang telah Dia berikan. Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala pula segala sesuatu yang telah Dia ambil. Ya Allah! Berilah keselamatan kepadaku dalam musibah ini dan berikanlah ganti yang lebih baik lagi.” Allah pun menganugerahkannya anak yang ketiga. Setelah beberapa tahun, si anak jatuh sakit. Dan ternyata sakitnya sangat parah sampai hampir mati. Sang ayah berada di sisinya dengan air mata yang berlinangan. Kemudian ia merasakan kantuk dan tidur. Di dalam tidurnya ia bermimpi bahwa kiamat telah datang. Ketakutan-ketakutan pada hari Kiamat telah muncul. Lantas ia melihat shirath (jembatan) yang telah dipasang di atas permukaan Neraka Jahannam. Orang-orang sudah siap menyeberanginya. Laki-laki tersebut melihat dirinya sendiri di atas shirath. Ia hendak berjalan, tetapi ia takut terjatuh. Tiba-tiba anaknya yang pertama yang telah mati datang berlari-lari menghampirinya seraya berkata, “Saya akan menjadi sandaranmu wahai ayahku!” Sang ayah pun mulai berjalan. Akan tetapi, ia masih khawatir terjatuh dari sisi lain. Tiba-tiba ia melihat anaknya yang kedua mendatanginya dan memegangi tangannya pada sisi lainnya. Lantas lelaki tersebut sungguh-sungguh bergembira. Setelah ia berjalan sebentara, ia merasakan sangat haus, lalu ia meminta kepada salah satu dari dua anaknya tersebut agar memberinya minuman. Keduanya berkata, “Tidak bisa. Jika salah satu dari kita meninggalkanmu, niscaya engkau terjatuh ke neraka, lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?” Salah satu dari kedua anaknya berkata, “Wahai ayahku! Seandainya ada saudara kami yang ketiga bersama kami, pastilah ia dapat mengambilkan minum untukmu sekarang.” Lantas lelaki tersebut terjaga dari tidurnya seraya ketakutan. Ia memuji AllahSubhanahu wa Ta’ala bahwa ia masih hidup dan Hari Kiamat belum tiba. Seketika ia melirik ke arah anaknya yang sedang sakit di sampingnya. Ternyata anaknya telah meninggal dunia. Kontan ia menjerit, “Segala puji bagi Allah.” Sungguh, saya telah mempunyai simpanan dan pahala. Kamu adalah pendahulu bagiku di atas shirath pada hari Kiamat kelak.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1


Go Ihsan Ribuan muslim menghadiri acara tausyiah dan doa mencari gubernur Jakarta beragama Islam di Masjid Istiqlal, pada Ahad, (18/9). Dalam kesempatan itu, disepakati sembilan poin hasil pertemuan sejumlah tokoh Islam.

Pada acara itu, dihadiri oleh sejumlah ulama dan tokoh besar seperti Kiai Didin Hafidhudin, Hidayat Nur Wahid, Bachtiar Nasir, Habib Rizieq dan Amien Rais. Mewakili semuanya, Bachtiar menyampaikan, kesembilan poin yang dianggap menjadi suara Islam jelang Pilgub DKI 2017. Kesembilan poin itu selanjutnya disebut sebagai risalah istiqlal.
Sembilan Risalah Istiqlal:


1. Kepada seluruh umat islam merapatkan barisan untuk memenangkan pemimpin muslim yang lebih baik.
2. Diserukan kepada partai pro rakyat agar berupaya maksimal untuk menyepakati satu calon pasangan calon gubernur muslim.
3. Diserukan kepada seluruh umat islam untuk beramai-ramai menggunakan hak pilihnya dalam pilkada dki 2017.
4. Diserukan kepada seluruh umat islam untuk berpegangkukuh kepada agamanya dengan hanya memilih calon muslim, dan haram memilih non muslim dan haram pula golput.
5. Diserukan kepada kaum muslimin untuk menolak melawan dan melaporkan segala bentuk suap baik itu berbentuk money politic maupun serangan fajar.
6. Pentingnya partai politik pro rakyat untuk memaksimalkan daya yang mereka miliki, serta melibatkan seluruh potensi atau elemen umat untuk memenangkan pasangan cagub cawagub yang disepakati umat.
7. Mengokohkan ukhuwah dan mewaspadai segala bentuk fitnah dan adu domba yang ditujukan kepada calon yang diusung oleh umat.
8. Mengingatkan seluruh pengurus KPUD DKI RT/RW yang ditugaskan sebagai KPPS untuk mengawal dan mengawasi jalannya Pilkada, agar terwujud Pilkada DKI yang jujur dan adil.
9. Mengimbau kepada partai yang mendukung calon non-muslim untuk mencabut dukungannya. Apabila tidak mengindahkan imbauan ini, maka diserukan kepada umat untuk tidak memilih partai tersebut," katanya.

Selain itu, hingga saat ini, kelompok Muslim memang belum bisa menentukan salah satu nama untuk didukung. Namun yang pasti, ia mengimbau kelompok Islam  hanya akan mendukung Gubernur beragama Islam.

"Ini sembilan butir, dan terus terang kami belum bisa menyebutkan siapa calon yang kami usung untuk saat ini karena nama calon yang kami usung akan kami rembukan terus. Nanti akan ada pertemuan bulanan untuk update," ujarnya.

Di sisi lain, ia mengakui, pihaknya masih terus membuka hubungan dengan partai politik. Sebab, ia menyebut, parpol lah yang mempunyai tiket guna meloloskan agub Islam.

"Kita juga akan terus berkomunikasi dengan semua partai agar calon yang kita sepakati menemui titik temunya. Demikian risalah istiqlal," tutupnya.

Diketahui, bacagub DKI Yusril Ihza Mahendra ikut menghadiri acara tersebut. Tetapi, ia tak memberi sepatah kata pun baik dalam sambutan atau ketika kedatangannya. Bahkan ia undur diri lebih dahulu ketimbang para tokoh lain. Alasannya, ia ingin menjaga netralitas umat Islam.



Go Ihsan - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan Islam di Indonesia merupakan harapan terakhir dunia akan wajah Islam yang toleran.

Hal itu disampaikan Din saat diwawancarai di Kantor Centre for Dialogue and Cooperation along Civilisations, di Jakarta, Kamis (4/8/2016).

"Islam Indonesia itu harapan terakhir dunia karena Islam di Indonesia dinilai toleran dan mampu hidup berdampingan dengan umat beragama selainnya," ujar Din.


Menurut Din, harapan itu wajar lantaran negeri-negeri Islam di Timur Tengah yang dulunya menjadi representasi wajah Islam dunia kini tengah bergolak. Sehingga umat Islam di dunia pun mencari representasi Islam yang memancarkan kedamaian dan itu berada di Indonesia

Karena itu Din berharap umat Islam di Indonesia mampu menjaga wajah Islam Indonesia yang toleran dan dikenal ramah.

Meski demikian Din mengakui saat ini wajah Islam di Indonesia tengah diuji dengan kemunculan kelompok radikal.

Din menuturkan kelompok radikal itu kerap memprovokasi umat Islam terutama saat terjadi konflik dan mengeluarkan isu agama untuk memanaskan situasi.

"Karena itu kita semua harus menjaga wajah Islam di Indonesia yang toleran dan ramah ini, kalau Islam di Indonesia berubah jadi intoleran, habis sudah," papar Din.



Go Ihsan - Ika Sri Wahyuni tak bisa menahan haru ketika mendengar Edward Mayer Napitupulu (34) melafalkan dua kalimat syahadat. Keputusan untuk memeluk agama Islam didapat Ika dan keluarganya setelah melalui proses cukup panjang.


Selain Ika dan Edward, satu anak mereka yaitu Anggiat Lamganda Hasonangan Napitupulu (8) juga ikut jejak kedua orang tuanya menjadi mualaf.

Ketiganya sudah sah menjadi muslim setelah membaca dua kalimat syahadat di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok di Jalan Nusantara Raya, Pancoran Mas, Depok. Proses pengislaman ketiganya dipimpin oleh Komisi Fatwa MUI Kota Depok KH TB Iin A Dhuyaiddin sekitar pukul 09.00 WIB.

Saat datang, Ika terlihat menggunakan penutup kepala. Sedangkan Edward dan anaknya menggunakan baju koko. Ketiganya lalu dibimbing satu per satu ketika membacakan syahadat.

Usai menjadi mualaf, Ika mengaku lebih tenang. Begitupun dengan suami dan anaknya. Niat untuk menjadi mualaf dikatakan Ika bukan untuk main-main. Sebelumnya, mereka sempat diskusi panjang terlebih dahulu.

Ika bercerita, setiap mendengar suara azan terutama azan magrib di tiap bulan puasa hatinya merasa tenang. Hal itu telah dialaminya sejak lama. Kebetulan, rumah keluarga Ika tidak jauh dari sebuah masjid di kawasan Cilodong, Depok.
"Ini sudah panggilan hati kami. Setiap mendengar suara azan saya tenang rasanya," kata Ika usai menjadi mualaf di Kantor MUI Depok, Kamis (25/6).

Dia menuturkan, sebelumnya sudah mempelajari mengenai Islam sedikit demi sedikit. Misalnya belajar bagaimana melaksanakan salat lima waktu. Setelah sah menjadi mualaf dia dan keluarganya pun berniat lebih mendalami Islam. "Sekarang kami sudah tenang," akunya.

Sementara itu, Sekretaris MUI Kota Depok, Khairullah Akhiari menuturkan, hal positif seperti ini patut diteladani. Di bulan penuh berkah ini menjadi momen penting bagi Ika dan keluarga yang telah memutuskan menjadi mualaf.
"Pengakuan mereka, selama ini merasa tidak tentram. Mereka tidak pernah beribadah ke gereja. Jadi memutuskan memeluk agama Islam," kata Khairul.


Go Ihsan - Juru bicara komite Imigrasi Jerman, Borjard Drager, menegaskan bahwa medialah pihak yang bertanggung jawab menditorsikan citra Islam dari agama yang damai dan baik menjadi buruk dan kekerasan.

Pernyataan ini dikatakan Borjard Drager pada hari Sabtu (19/12) kemarin menanggapi kampanye buruk terhadap Islam, seperti dilansir situs Huffington Post Amerika Serikat.
“Islam adalah agama yang damai, jauh lebih baik kita mengenalnya lebih dalam dari apa yang dipromosikan oleh media,” ujar Borjard Drager.

Borjard Drager melanjutkan, “Musuh utama Islam saat ini adalah mereka yang mengaku sebagai pengikutnya, akan tetapi justru menyebarkan teror mengatasnamakan agama,” seraya menyerukan upaya bersama untuk menghadapi terorisme yang tidak mengenal ras, suku, dan agama.

Perlu diketahui bahwa hingga akhir tahun 2015 pemerintah Jerman sedikitnya telah menerima 1 juta pengungsi asal Timur Tengah, khususnya Suriah. (eramuslim)


Go Ihsan

{facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter https://twitter.com/redaksigoihsan} {google-plus#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget