Halloween Costume ideas 2015
Latest Post

Go Ihsan - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan Islam di Indonesia merupakan harapan terakhir dunia akan wajah Islam yang toleran.

Hal itu disampaikan Din saat diwawancarai di Kantor Centre for Dialogue and Cooperation along Civilisations, di Jakarta, Kamis (4/8/2016).

"Islam Indonesia itu harapan terakhir dunia karena Islam di Indonesia dinilai toleran dan mampu hidup berdampingan dengan umat beragama selainnya," ujar Din.


Menurut Din, harapan itu wajar lantaran negeri-negeri Islam di Timur Tengah yang dulunya menjadi representasi wajah Islam dunia kini tengah bergolak. Sehingga umat Islam di dunia pun mencari representasi Islam yang memancarkan kedamaian dan itu berada di Indonesia

Karena itu Din berharap umat Islam di Indonesia mampu menjaga wajah Islam Indonesia yang toleran dan dikenal ramah.

Meski demikian Din mengakui saat ini wajah Islam di Indonesia tengah diuji dengan kemunculan kelompok radikal.

Din menuturkan kelompok radikal itu kerap memprovokasi umat Islam terutama saat terjadi konflik dan mengeluarkan isu agama untuk memanaskan situasi.

"Karena itu kita semua harus menjaga wajah Islam di Indonesia yang toleran dan ramah ini, kalau Islam di Indonesia berubah jadi intoleran, habis sudah," papar Din.



Go Ihsan - Ika Sri Wahyuni tak bisa menahan haru ketika mendengar Edward Mayer Napitupulu (34) melafalkan dua kalimat syahadat. Keputusan untuk memeluk agama Islam didapat Ika dan keluarganya setelah melalui proses cukup panjang.


Selain Ika dan Edward, satu anak mereka yaitu Anggiat Lamganda Hasonangan Napitupulu (8) juga ikut jejak kedua orang tuanya menjadi mualaf.

Ketiganya sudah sah menjadi muslim setelah membaca dua kalimat syahadat di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok di Jalan Nusantara Raya, Pancoran Mas, Depok. Proses pengislaman ketiganya dipimpin oleh Komisi Fatwa MUI Kota Depok KH TB Iin A Dhuyaiddin sekitar pukul 09.00 WIB.

Saat datang, Ika terlihat menggunakan penutup kepala. Sedangkan Edward dan anaknya menggunakan baju koko. Ketiganya lalu dibimbing satu per satu ketika membacakan syahadat.

Usai menjadi mualaf, Ika mengaku lebih tenang. Begitupun dengan suami dan anaknya. Niat untuk menjadi mualaf dikatakan Ika bukan untuk main-main. Sebelumnya, mereka sempat diskusi panjang terlebih dahulu.

Ika bercerita, setiap mendengar suara azan terutama azan magrib di tiap bulan puasa hatinya merasa tenang. Hal itu telah dialaminya sejak lama. Kebetulan, rumah keluarga Ika tidak jauh dari sebuah masjid di kawasan Cilodong, Depok.
"Ini sudah panggilan hati kami. Setiap mendengar suara azan saya tenang rasanya," kata Ika usai menjadi mualaf di Kantor MUI Depok, Kamis (25/6).

Dia menuturkan, sebelumnya sudah mempelajari mengenai Islam sedikit demi sedikit. Misalnya belajar bagaimana melaksanakan salat lima waktu. Setelah sah menjadi mualaf dia dan keluarganya pun berniat lebih mendalami Islam. "Sekarang kami sudah tenang," akunya.

Sementara itu, Sekretaris MUI Kota Depok, Khairullah Akhiari menuturkan, hal positif seperti ini patut diteladani. Di bulan penuh berkah ini menjadi momen penting bagi Ika dan keluarga yang telah memutuskan menjadi mualaf.
"Pengakuan mereka, selama ini merasa tidak tentram. Mereka tidak pernah beribadah ke gereja. Jadi memutuskan memeluk agama Islam," kata Khairul.


Go Ihsan - Juru bicara komite Imigrasi Jerman, Borjard Drager, menegaskan bahwa medialah pihak yang bertanggung jawab menditorsikan citra Islam dari agama yang damai dan baik menjadi buruk dan kekerasan.

Pernyataan ini dikatakan Borjard Drager pada hari Sabtu (19/12) kemarin menanggapi kampanye buruk terhadap Islam, seperti dilansir situs Huffington Post Amerika Serikat.
“Islam adalah agama yang damai, jauh lebih baik kita mengenalnya lebih dalam dari apa yang dipromosikan oleh media,” ujar Borjard Drager.

Borjard Drager melanjutkan, “Musuh utama Islam saat ini adalah mereka yang mengaku sebagai pengikutnya, akan tetapi justru menyebarkan teror mengatasnamakan agama,” seraya menyerukan upaya bersama untuk menghadapi terorisme yang tidak mengenal ras, suku, dan agama.

Perlu diketahui bahwa hingga akhir tahun 2015 pemerintah Jerman sedikitnya telah menerima 1 juta pengungsi asal Timur Tengah, khususnya Suriah. (eramuslim)


Go Ihsan - Kerusuhan berbasis konflik SARA kembali terjadi di Tanah Air. Setahun lalu konflik serupa terjadi di Tolikara, belahan timur Indonesia. Kali ini, konflik menjalar ke barat Indonesia, tepatnya Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara.

Kali ini, Kiblat.net mewawancarai Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat untuk mengetahui lebih jauh kerusuhan di Tanjungbalai yang terjadi pada Jumat, 29 Mei 2016 lalu. Berikut wawancara Kiblat.net bersama Tengku Zulkarnaen pada Selasa siang, (02/08).


Kiblat.net: Bagaimana Kyai melihat kasus kerusuhan Tanjungbalai ini?

Saya mendengar laporan bahwa yang ditangkap itu orang-orang Islam semua. Kita tidak keberatan kalau anarkis ya ditangkap. Tapi kok pemicunya itu, Meliana itu kok cuma sebagai saksi?
Dia kan melakukan pelecehan agama, maki-maki agama orang. Kalau pemerintah tidak jeli, orang Islam diinjak terus bertambah parah Indonesia ini nantinya.

Masalah Tanjungbalai ini sebenarnya hanya pemicu saja, puncak gunung es. Yang jelas orang Islam di mana-mana selalu mengalami tiga kondisi. Pertama kezaliman, kedua ketertindasan, ketiga ketidak berdayaan. Ini yang sebetulnya harus diselesaikan oleh pemerintah. Sehingga kalau dibakar nantinya tidak terbakar. Kalau yang tiga ini tetap ada di mana-mana nantinya akan mudah terjadi (konflik, red). Sebab di mana-mana sudah tidak tahan.

Dulu etnis Cina ini hanya menguasai ekonomi di zaman orde baru. Sekarang ekonomi sudah mereka kuasai 98 persen. kita beli apa-apa Cina punya. Bikin roti tepungnya Cina, buat ban pabriknya Cina punya. Mau buat rumah pelacuran germo-germonya dia semua. Itu baru ekonomi. Sekarang tanah 70 persen milik Cina. Konglemerat-kongelomerat yang punya kebun sawit, Cina punya jutaan hektar.
Sekarang merambah ke politik, DPR mereka sudah. setelah partai politik dan DPR mereka kuasai, sekarang bupati gubernur mereka rebut, sudah mau nyalon presiden pula Cina.

Jadi rakyat-rakyat ini merasa kita terzalimi, tertindas dan sudah tidak berdaya. begitu datang pemicu, ya meledak lah. Seluruh Indonesia begitu akan terjadi. Kalau yang tiga ini tidak diselesaikan oleh negara.

Kiblat.net: Jadi ini persoalan konflik SARA?

Saya kan ibu saya orang Cina, kakek nenek saya orang Cina. Saya tidak rasis, saya berfikir rasional saja. Jangan sampai rakyat ini sudah merasa terzalimi dia membabi buta. Itu saja saya ingatkan.
Sekarang mau apa kita, mau sekolah cina semua, rumah sakit cina semua, mau kerja masuk bank cina semua?

Di Tanjungbalai itu Cina cuma satu sampai dua persen. Sisanya orang Islam 98 persen. Mereka buat patung budda tiga meter besarnya. Oh, ini hak demokrasi. Iya, tapi kan nggak pantas. Selain hak dipikir juga lah, pakai akal waras.

Akal itu dipakai jangan asal mentang-mentang, asal berhak, nanti orang tidak tahan. Di Bali, kita tahu sejak zaman dulu gubernurnya selalu orang Bali. Kita tidak pernah protes, tidak pernah keberatan, karena memang wajar merek gitu kok adatnya, agamanya. Tapi di Betawi bagaimana, gubernurnya sekarang cina.

Kiblat.net: Bagaimana dengan toleransi, umat Islam yang mayoritas di negeri ini selalu diminta untuk bertolelansi sementara umat minoritas sering kebablasan?

Sekarang kita ini mana orang minoritas yang ditindas? Cina itu tiap rumahnya ada hio, bakar dupa tiap hari. Itu kan baunya asap nyebar ke samping. Tidak pernah kita protes itu. Ibu saya kan orang cina, kampungnya Tiong, Bagansiapiapi. Setiap rumah Cina bakar hio, asapnya itu ke kanan kiri orang Islam tidak ada yang protes. Kita ngerti kok, lakum dinukum waliyadin.(Bagimu agamamu bagiku agamaku, red.)

Itu gereja setiap jam enam pagi jam enam sore bunyi itu (lonceng, red), kita tidak pernah ribut. Itu hak mereka yang wajib kita lindungi. Tidak ada orang Islam protes.
Kok tiba-tiba ada orang Cina datang ke masjid maki-maki orang azan, ya terbakar orang. Kalau saya tidak mungkin silap, saya orang sekolahan. Rakyat yang sudah terzalimi, tertindas dan sudah tidak berdaya tidak punya jalan lain.

Mereka ini marah bukan hanya karena masjid dimaki-maki. Itu hanya pemicu. Mereka memang sudah marah betul, dendam. Mau cari makan susah, mau sekolah tidak bisa, sakit mau berobat tidak ada. Itu yang masalah.

Orang-orang Tanjungbalai itu pencari ikan, pencari kerang. Seluruh kapalnya Cina punya. Dia cuma jadi kuli. Kalau kerja dapat duit, kalau tidak kerja tidak dapat duit.

Jadi Presiden Jokowi tidak usah mendesak-desak rakyat mengatakan, jangan dibesar-besarkan. Ini sudah kejadian seluruh rakyat Indonesia. Saya sudah keliling Indonesia, di mana-mana orang tambah melarat. Bukan tambah baik kehidupan.

Kiblat.net: Jadi menurut Kyai bagaimana penyelesaiannya?

Ya tiga itu tadi. Ketidakadilan, ketertindasan, dan ketidakberdayaan itu harus diselesaikan. Selama itu tidak diselesaikan pemerintah, percayalah negeri ini akan hancur binasa.

Kiblat.net: Pascakerusuhan di Tanjungbalai, pengeras suara masjid jadi sorotan dan diwacanakan akan diatur oleh pemerintah, bagaimana menurut Kyai?

Itu menambah rakyat jengkel saja. Gereja tidak diatur bunyi loncengnya. kenapa kita tidak ribut? Iini gara-gara Cina satu saja ribut, diatur seluruh indonesia.

Dulu Sudarmono pernah mencoba itu, di zaman orde baru mau mencoba. Tapi tidak bisa.
Coba kita lihat, di Jakarta, Ahok melarang potong korban di masjid-masjid. Penjajah kafir Belanda kita lawan, Jepang kita lawan, apalagi Cina-cina yang cuma satu dua persen ini. Nanti tidak tahan mereka kalau rakyat sudah lepas kontrol.

Kalau masjid dilarang, saya tambah keras. Pasti melawan. Azan kok dilarang. Kalau ngaji pakai kaset dilarang saya setuju. Tapi kalau azan dilarang kita lebih baik bacok-bacokan saja, perang. Saya mimpin perangnya, kalau dilarang azan pakai pengeras suara itu.

Sedangkan azan di Eropa saja yang selama ini dilarang sudah diizinkan. Di Swedia, di Inggris sudah diizinkan pakai pengeras suara, mereka tahu azan itu bagus. Cuma sebentar, tiga-dua menit.
Jadi tidak menyelesaikan masalah. Salah langkah presiden dan anggota DPR kita kalau yang mau diatur itu adalah azannnya. Yang harus diatur itu tiga itu, jangan serakah. Bagikan keadilan kepada rakyat.

Kita ini sudah kayak dijajah Cina, tanah dia punya, duit dia punya. Sekarang kebijakan shalat pun mau diatur juga. Wah bahaya ini. Jangan main-main api lah. Jangan mengalihkan masalah, masalahnya itu adalah keserakahan etnis Cina. Dulu cuma menguasai ekonomi, sekarang mau menguasai DPR, Gubernur. Semua mau mereka kuasai sampai orang Islam mau azan pun diatur.
Percayalah! Laranglah azan tidak boleh pakai pengeras suara. Tidak akan ditaati.

Kiblat.net: Lalu bagaimana dengan langkah penegakan hukum terkait pelaku kerusuhan di Tanjungbalai?

Meliana itu harus ditangkap sebagai tersangka penghinaan agama. Kalau tidak, maka tidak akan bisa meredam. Semakin dendam malah iya. Nanti ditekan di Tanjungbalai, meledak di tempat lain. Saya sebagai anak bangsa prihatin kalau bangsa saya dihabisi.

Saya sering ke Tanjungbalai, ada satu gerakan Cina di sana, mereka sengaja membeli tanah-tanah di dekat masjid dan mereka tidak mau jual. Sehingga masjid tidak bisa dibesarkan, kanan kiri itu diapit Cina.

Coba periksa, hampir semua masjid di tanjung balai itu kanan kiri depan belakang selalu dibeli Cina dengan harga tinggi dan tidak mau dijual kepada masjid. Sehingga masjid tidak bisa dibesarkan. Kita sudah ada uang mau melebarkan masjid mereka tidak mau jual.

Itu kasus di Tanjungbalai sudah bertahun-tahun. Arogannya bukan main. Ini sudah jadi akumulasi dari arogansi cina dan menyebabkan emosi masyarakat meluap. Terpancing sedikit saja luar biasa.
Kiblat.net: Terakhir, apa nasihat Kyai terkait kasus ini agar tidak terulang di masa mendatang?
Pemerintah ini jangan mengatasi ranting-rantingnya, jangan daun-daunnya saja. Tapi akar penyebab masalahnya. Kenapa warga geram terhadap orang-orang etnis Cina? Itu yang harus diselesaikan, bukan orang diancam-ancam. Tidak bisa orang diancam-ancam.

Bikin peraturan tidak akan menyelesaikan masalah, selama tiga itu: kezaliman, ketertindasan, dan ketidakberdayaan itu tidak dihilangkan dari bangsa Indonesia yang semakin miskin itu.(Sumber Kiblat.net)



Go Ihsan - Staf Ahli Kementerian Keuangan Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Andin Hadiyanto mengatakan rencana aksi (masterplan) arsitektur keuangan Islam Indonesia akan diluncurkan dalam World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-12.


"Masterplan itu berisikan kebijakan dan rencana tindak, mulai dari pembangunan infrastruktur untuk memberikan kemudahan akses dan mobilitas sumber daya keuangan yang diperlukan," kata Andin dalam jumpa pers penyelenggaraan WIEF ke-12 di Jakarta, Kamis.

Andin mengatakan mobilitas sumber daya tersebut termasuk dukungan fiskal dan moneter serta peningkatan kapasitas dalam penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas produk serta daya saing.

Selain itu, rencana aksi itu juga mencakup perluasan instrumen investasi syariah, mekanisme penguatan modal untuk meningkatkan daya ungkit industri keuangan syariah dan perbaikan sistem pendidikan ekonomi serta keuangan syariah.

"Perbaikan sistem pendidikan ini untuk mencetak sumber daya manusia yang mampu bersaing di pasar internasional secara terbuka dan kompetitif, serta mencakup adanya penyusunan peta jalan e-dagang syariah," kata Andin.

Peluncuran rencana aksi ini merupakan hasil dari pelaksanaan WIEF selain beberapa kesepakatan yang melibatkan Jakarta Industrial Estate Pulogadung dan PT Pelabuhan Indonesia II (IPC) serta Indonesia Stock Exchange dan Malaysia Stock Exchange.

Indonesia akan menjadi tempat penyelenggaraan WIEF ke-12 yang berlangsung di Jakarta pada 2-4 Agustus 2016 serta menurut rencana dihadiri oleh kepala negara, pemimpin dunia dan pembicara internasional.

Forum WIEF merupakan tempat berkumpulnya para pemimpin dunia, pemimpin industri, akademia, para ahli regional, para profesional maupun manajer perusahaan untuk mendiskusikan peluang kemitraan bisnis di dunia muslim.

Saat ini, WIEF sedang berkembang menjadi forum yang terbuka bukan hanya bagi komunitas muslim diluar negara-negara OKI, namun juga komunitas non muslim di seluruh dunia.

Penyelenggaraan WIEF ke-12 ini akan dihadiri oleh 2.500 delegasi dari 69 negara dan 152 tamu penting termasuk pemimpin dunia, enam menteri, 51 pembicara forum, 55 pembicara program pelengkap, 15 presenter dan 16 pelaku pertukaran bisnis.

Tema utama WIEF ke-12 adalah "Mendesentralisasikan Pertumbuhan, Memberdayakan Bisnis di Masa Depan" dengan 12 sub tema yang akan mewarnai berbagai sesi diskusi.

Sub tema tersebut antara lain pembiayaan infrastruktur, industri halal, desain dan busana muslim, pembiayaan UKM, inovasi teknologi, bisnis startup wiraswasta muda, peran wanita dalam e-dagang, ekonomi konsumer dan keuangan syariah.(ant)


Go Ihsan - Umat Islam merupakan modal besar bagi bangsa Indonesia. Karenanya, persatuan umat Islam menjadi modal penting kelanjutan Indonesia di masa depan.

Tokoh Muslim AS asal Indonesia, Shamsi Ali, mengingatkan Indonesia memiliki modal besar menghadapi tantangan di masa depan. Ia menegaskan, modal itu adalah sinergi umat atau yang bahasa diterjemahkan lewat bahasa agama berarti jamaah.

"Jamaah semakin penting saat ini karena keselamatan kita (Indonesia) ke depan terletak di kerja sama," kata Imam Masjid New York tersebut, Rabu (27/7).

Menurutnya, Sinergi itu yang akan menjadi modal besar umat Islam untuk sukses.  Untuk itu, ia meminta umat Islam untuk semangat menuju kesuksesan di dunia, dan berusaha agar itu bisa mengantarkan kesuksesan di akhirat.
"Sinergi mampu membuat umat Islam di Indonesia mampu memahami dunia, yang membutuhkan kecepatan, independensi dan kompetisi," katanya.

Bahkan, ia membagikan pengalaman saat menjadi pembicara di salah satu di AS, dan orang-orang menilai Indonesia terlalu rendah hati. Menurut Shamsi, orang-orang AS menilai Indonesia memiliki potensi luar biasa, sebagai negara berpenduduk terbanyak keempat dan populasi Muslim terbesar dunia. (rol)


Go Ihsan -  Hakim Konstitusi Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar prihatin karena umat bercerai berai dalam memilih pemimpinnya. Bahkan lebih memilih pemimpin non-Muslim. Padahal banyak yang dapat dipilih dari tokoh Islam.

"Banyaknya provokasi sehingga yang dipilih adalah pemimpin non-Muslim," jelas dia dalam memberikan sambutan di Pertemuan Dai se-Asia Tenggara, Selasa (26/7).

Menurutnya, banyak non-Muslim yang mengaku berjuang atas nama solidaritas, padahal dalam sejarah solidaritas umat Islam tidak boleh mengalahkan Akidah. Tetapi melihat kepada masa lalu, mereka memperjuangkan solidaritas ketika masih menjadi minoritas saat masuk sebuah negara dan sekarang telah menjadi mayoritas mereka menghancurkan umat Islam seperti di Palestina.

Patrialis mengingatkan kader bangsa khususnya umat Islam tidak lengah dan malas untuk mengisi jabatan di negara ini. Karena di beberapa tempat dan negara non-Muslim telah menguasai jabatan strategis di lembaga berbagai negara.

"Ketika putusan berada di tangan non-Muslim, maka umat Islam yang selalu dirugikan," jelas dia.
Sebagai hakim di Mahkmah Konsitusi, Patrialis berusaha untuk menentukan arah perjalanan bangsa ini. Salah satunya menjaga agar hak dasar umat muslim tidak bertentangan dengan kebijakan dan undang-undang negara. Begitu juga sebelumnya saat dia menjadi Memkumham sebisa mungkin berusaha berdakwah seluas-luasnya agar umat Islam kembali kepada Alquran dan Hadist.


Go Ihsan - Dosen Kajian Islam di Prince of Sangkla University, Thailand Selatan, Ali Samoh, saat menghadiri acara Pertemuan Dai dan Ulama Asia Tenggara di Bogor mengatakan, peran ulama sangat dibutuhkan untuk mempersatukan umat Islam. Apalagi, umat Islam saat ini dalam kondisi yang sangat lemah.

"Sesungguhnya ulama memiliki peran yang sangat penting, jika ulama baik insyaallah masyarakat juga baik," kata Ali kepadaRepublika.co.id, Senin (25/7). 

Di Thailand sendiri, Ali mengungkapkan, para ulama sudah mulai mempersatukan umat Islam dengan mengusung konsep Islam wasatiyyah. Menurut Ali, konsep Islam wasatiyyah perlu disebarluaskan karena mahzab ini berasal dari Alquran dan Hadis.

Dalam mengampanyekan konsep Islam Wasatiyyah, Ali menjelaskan, pihaknya telah membuat kajian-kajian Islam dan membagikan buku-buku yang menerangkan tentang Islam wasatiyyah secara gratis. Bahkan, Thailand sudah mempunyai sejumlah pusat kajian Islam wasatiyyah seperti di Prince of Songklah University.

Ali mengaku konsep Islam Wasatiyyah sendiri sangat membantu umat Islam Thailand dalam hidup berdampingan dengan sesama Muslim maupun non Muslim.(ken/rol)


Go Ihsan - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, melarang keras kaum Muslim wanita yang sudah berstatus istri memajang foto-fotonya di media sosial (medsos). "Jangan memamerkan foto-foto Anda di media sosial, Facebook, Line, BBM, WA, dan lainnya, karena dapat berdampak negatif kepada diri sendiri dan keluarga," kata Ketua MUI Kota Palu, Zainal Abidin.

Pakar pemikiran Islam modern itu mengatakan, wanita Muslim yang telah menikah tak perlu memamerkan wajahnya serta sebagian tubuhnya di Facebook, sebab lebih berdampak negatif ketimbang positif.


Bahkan, sebut Zainal, memamerkan wajah bagi wanita Muslim yang telah menikah dapat menimbulkan ketersinggungan suami yang kemungkinan berujung pada keretakan hubungan baik rumah tangga.

Sebab ketika gambar wajah serta sebagian tubuh wanita terpajang di medsos, maka hal itu menarik perhatian para lelaki dengan berbagai komentar.

"Saya melihat bahwa perempuan Muslim yang sudah berkeluarga justru senang meng-upload foto fotonya, dan malah lebih senang lagi dia jika ada orang atau pengguna Facebook yang berkomentar dengan kata-kata misalkan 'bunda cantik'," ucapnya.

Dalam Islam, lanjut Zainal, kecantikan wanita hanya untuk suaminya, bukan untuk orang lain. Oleh karena itu, wanita berdandan, bergaya, hanya untuk suaminya agar hubungan keluarga lebih membaik, bukan untuk memamerkan kepada orang banyak.

Ia mengakui bahwa saat ini banyak sekali wanita Muslim, khususnya di Kota Palu dan secara umum di Sulawesi Tengah, yang telah menikah, rajin menggunggah foto pribadinya ke medsos khususnya Facebook.

Hal itu sebenarnya tidaklah menjadi masalah, asalkan foto tersebut dengan suami atau keluarga dan tidak memamerkan aurat atau hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. (ken/okz)

Go Ihsan

{facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter https://twitter.com/redaksigoihsan} {google-plus#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget